Pixel Code jatimnow.com

Menakar Nyali, Menepis Hoaks: Seni Bertahan Hidup di Negeri Cincin Api

Editor : Ni'am Kurniawan  
Erupsi Semeru 2025 (dok.jatimnow.com)
Erupsi Semeru 2025 (dok.jatimnow.com)

jatimnow.com - Indonesia tidak pernah benar-benar sunyi dari detak jantung bumi. Sebagai negara yang bersemayam di atas Ring of Fire, bencana alam bukanlah tamu yang datang tiba-tiba, melainkan tetangga yang sewaktu-waktu bisa mengetuk pintu. 

Namun, dibalik gemuruh erupsi dan terjangan banjir, muncul satu ancaman yang tak kalah mematikan: bencana informasi.

Di era digital, saat bumi berguncang, jempol manusia seringkali bergerak lebih cepat daripada nalar. 

Mari kita bedah bagaimana cara bertahan hidup, tidak hanya dari amukan alam, tetapi juga dari badai kebohongan.

Mitigasi: Napas Kesiapsiagaan, Bukan Sekadar Jargon

Bagi banyak orang, mitigasi mungkin terdengar seperti istilah teknis dalam rapat birokrasi. Padahal, mitigasi adalah tentang hidup dan mati. Ia adalah investasi waktu yang dilakukan saat cuaca sedang cerah agar kita tak kelimpungan saat badai datang.

Memahami risiko berarti mengenali rumah sendiri. Apakah kita tinggal di jalur lahar? Apakah pondasi rumah kita sanggup menahan getaran gempa? Mitigasi dasar dimulai dari hal sederhana: Tas Siaga Bencana (TSB). 

Di dalamnya bukan sekadar baju ganti, tapi ada harapan untuk bertahan hidup selama 72 jam pertama, dokumen penting, obat-obatan, senter, dan air minum

Siklus Keselamatan: Sebelum, Saat, dan Sesudah

Dalam jurnalistik kebencanaan, ada hukum tidak tertulis yang harus dipahami setiap warga. Mengetahui jalur evakuasi adalah wajib. Jangan menunggu gemuruh datang baru mencari pintu keluar.

Ketenangan adalah senjata utama. Di tengah gempa terjadi, ditengah banjir bandang mengalir, penyelamatan diri bukan sekadar teori, melainkan cara melindungi.

Setelahnya, jangan terburu-buru kembali ke bangunan yang retak. Waspadai bencana susulan, ataupun potensi bahaya dari bangunan yang kamu singgahi.

Ketika Hoaks Menjadi "Racun" di Tengah Krisis

Sejarah mencatat, saat Gunung Semeru erupsi atau banjir melanda Sumatera, media sosial mendadak riuh. Sayangnya, tidak semua suara itu benar. 

Foto-foto lama dari tahun 2010 dipoles kembali, pesan berantai tentang gempa susulan berkekuatan 9,0 SR menyebar lewat grup media sosial (whatsapp) keluarga, menciptakan kepanikan massal yang kontraproduktif.

Baca juga:
Para Penjaga Cincin Api: 9 Jantung Bumi yang Tak Pernah Tidur

Hoaks kebencanaan adalah parasit. Ia memakan rasa takut kita. Saat orang panik, kemampuan berpikir kritis menurun, dan itulah saat hoaks bekerja paling efektif. Akibatnya? Warga bisa mengungsi ke arah yang salah atau mengabaikan instruksi evakuasi resmi karena lebih percaya pada kabar burung.

Di tengah bencana, satu informasi salah yang dibagikan bisa lebih berbahaya daripada material vulkanik itu sendiri.

#Literasi Digital sebagai Perisai

Menjadi tangguh bencana berarti juga menjadi cerdas informasi. Ruang digital yang sehat akan mempercepat proses penyelamatan. 

Berikut adalah langkah P3K Informasi yang bisa kita lakukan:

Saring Sebelum Sharing: Jangan biarkan ketakutan menekan tombol send. Jika informasi tersebut mengandung nada bombastis atau tanpa sumber jelas, berhentilah di Anda.

Rujukan Tunggal pada Otoritas: Hanya percayai data dari institusi resmi seperti BMKG, BNPB, PVMBG, dan pemerintah daerah melalui akun terverifikasi. Aplikasi seperti MAGMA Indonesia adalah panduan saku yang lebih berharga daripada pesan berantai anonim.

Baca juga:
Waspada Kebencanaan: Belajar dari Jawa Timur dan Sumatera

Cek Tanggal dan Lokasi: Hoaks paling sering menggunakan konten lama yang diunggah ulang. Perhatikan detail kecil: apakah seragam petugasnya sesuai? Apakah lanskapnya memang daerah kita?

Menutup Celah Bahaya dengan Gotong Royong

Keselamatan adalah kerja kolektif. Komunitas lokal memiliki peran krusial sebagai penyambung lidah informasi yang akurat. 

Jika di lapangan kita mengenal gotong royong membersihkan puing, maka di dunia maya kita butuh gotong royong membasmi hoaks.

Mitigasi bencana adalah tentang menjaga raga, sementara kewaspadaan hoaks adalah tentang menjaga jiwa agar tetap tenang dalam mengambil keputusan. 

Dengan fisik yang siaga dan pikiran yang kritis, kita tidak hanya bertahan hidup dari bencana alam, tapi kita tumbuh menjadi bangsa yang tangguh dan tak mudah goyah oleh kabar bohong.

Di Negeri Cincin Api ini, pilihan kita hanya satu: Berdamai dengan alam melalui persiapan, dan berperang melawan hoaks melalui pengetahuan.