Pixel Code jatimnow.com

Ngeri! Perempuan Pemilah Sampah di Gresik Rentan Bahan Kimia Plastik

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Perempuan pemilah sampah di Gresik terpapar 23 bahan kimia berbahaya dari plastik. (Foto: Ecoton/jaimnow.com)
Perempuan pemilah sampah di Gresik terpapar 23 bahan kimia berbahaya dari plastik. (Foto: Ecoton/jaimnow.com)

jatimnow.com - Studi terbaru mengungkap risiko serius yang dihadapi perempuan pemilah sampah di Gresik, Jawa Timur. Penelitian yang dilakukan oleh WIOEH (Wonjin Institute for Occupational Environmental Health), ECOTON, dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menemukan bahwa perempuan pemilah sampah terpapar 23 bahan kimia berbahaya dari plastik.

Penelitian ini melibatkan 32 perempuan di Gresik, terdiri dari 27 pekerja pemilah sampah dan 5 perempuan non-pekerja sebagai kelompok kontrol. Analisis dilakukan terhadap 65 jenis bahan kimia dalam darah dan urin.

Hasilnya menunjukkan bahwa 23 bahan kimia berbahaya terdeteksi pada seluruh peserta, dengan kadar jauh lebih tinggi pada kelompok pekerja.

“Temuan kami menunjukkan bahwa pekerja pemilah sampah di Indonesia terpapar bahan kimia plastik berbahaya pada tingkat yang jauh lebih tinggi dibanding populasi umum. Kondisi ini tidak boleh diabaikan," ujar Won Kim dari WIOEH.

Beberapa senyawa yang ditemukan dalam kadar tinggi antara lain ftalat (DEHP), Bisphenol A (BPA), PAH (1-OH-pyrene), dan flame retardants (DPHP, DBuP). Paparan kronis terhadap senyawa-senyawa ini berpotensi mengganggu hormon, metabolisme, kesehatan reproduksi, serta meningkatkan risiko kanker.

Seluruh peserta juga menunjukkan kadar timbal (Pb) yang lebih tinggi dibanding populasi umum di negara maju. Timbal merupakan neurotoksin yang dapat menyebabkan penurunan kecerdasan, tekanan darah tinggi, gangguan hormon, serta risiko cacat perkembangan pada janin.

Baca juga:
Ecoton Gandeng SMP NU Shafiyah Banyuwangi Kampanyekan Pesantren Zero Waste

Lestari Sudaryanti dari Fakultas Kedokteran UNAIR mengungkapkan, paparan bahan kimia plastik pada kadar setinggi ini sangat mengkhawatirkan, terutama bagi kelompok pekerja perempuan.

"Banyak dari senyawa yang kami temukan berkaitan dengan gangguan hormon, risiko penyakit metabolik, hingga masalah kesehatan reproduksi," ungkapnya.

Penelitian ini menyoroti buruknya tata kelola sampah di Indonesia, di mana sebagian besar sampah plastik tidak terkelola dengan baik dan berakhir di lingkungan terbuka. Kondisi ini menyebabkan pekerja di lapangan menjadi pihak pertama yang terpapar bahan kimia berbahaya.

Baca juga:
Bikin Geleng Kepala, Murid SD Bawean Angkat 'Warisan' Sampah Plastik 34 Tahun

Menurut Daru Setyorini dari ECOTON Foundation, penelitian ini memperlihatkan dampak dari sistem pengelolaan sampah Indonesia yang masih buruk.

"Temuan tingginya senyawa berbahaya dalam urin pekerja harus menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk memperbaiki tata kelola sampah, mengurangi plastik sekali pakai, dan memastikan perlindungan bagi pekerja sektor informal," tegasnya.

Untuk itu, pemerintah dan industri didesak agar segera memperbaiki sistem pengelolaan sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengadopsi standar perlindungan pekerja yang lebih baik, termasuk pemantauan kesehatan berkala, pengurangan paparan di tempat kerja, dan regulasi yang lebih kuat terhadap bahan kimia berbahaya.