jatimnow.com – Universitas Brawijaya (UB) melakukan pendataan terhadap mahasiswanya yang terdampak bencana di Sumatera dari tiga provinsi. Posko Crisis Center UB dibuka di Gedung Rektorat, Lobi Belakang, sejak Selasa (9/12/2025) dan memasuki hari kedua pada Rabu.
Para mahasiswa datang membawa identitas diri seperti Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Setelah itu mereka menjalani proses verifikasi melalui wawancara, sebelum diklasifikasikan ke beberapa kategori. Mahasiswa yang didata berasal dari Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sejak hari pertama pembukaan posko pada Selasa (9/12), ratusan mahasiswa dari tiga provinsi tersebut tercatat telah mendatangi Posko Crisis Center Universitas Brawijaya.
Salah satu mahasiswa, Deu Gultom dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, menyampaikan apresiasinya atas langkah UB memberikan bantuan kepada mahasiswa terdampak bencana asal Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menilai langkah itu menunjukkan kepekaan dan rasa kemanusiaan pihak kampus.
“Seperti yang kita lihat di media sosial, banjir yang terjadi sangat besar. Bahkan ada rumah yang tertutup lumpur akibat banjir. Saya juga sampai sekarang masih kesulitan dana,” ujar Deu, mahasiswa asal Sibolga, ketika ditemui Rabu (10/12/2025).
Deu merupakan salah satu mahasiswa UB yang terdampak banjir bandang di Sumatera Utara. Bencana tersebut menyebabkan kiriman uang dari keluarganya terhambat. Selain itu, akses komunikasi dengan keluarga pun sempat terputus, meski seluruh anggota keluarganya selamat. Hingga saat ini ia mengaku belum menerima kiriman uang bulanan.
Baca juga:
Bantuan dari Kota Kediri Tiba di Sumatera, Mbak Vinanda: Semoga Jadi Penyemangat Korban
“Banjir bukan hanya menenggelamkan rumah, tetapi juga memutus akses jalan dan komunikasi. Karena itulah beberapa mahasiswa belum bisa menerima kiriman uang dari keluarga. Bantuan dana dari UB sangat membantu kami,” jelasnya.
Di sisi lain, Wakil Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM) UB, Muhammad Ghifari Aulia, menyampaikan bahwa data yang dihimpun akan digunakan untuk mengajukan beasiswa hingga rekomendasi pemotongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) kepada pihak Rektorat UB. Sebelum itu, EM UB bersama tim rektorat akan melakukan klasifikasi dan verifikasi untuk memastikan tingkat dampak yang dialami mahasiswa.
“Kalau memang membutuhkan beasiswa, kami akan meminta pihak rektorat memberikan bantuan tersebut. Jika mahasiswa kesulitan membayar UKT, kami juga akan mengajukan rekomendasi agar permasalahan itu segera diselesaikan,” ujar Ghifari.
Baca juga:
Waspada Kebencanaan: Belajar dari Jawa Timur dan Sumatera
Ia menambahkan, EM UB juga menyediakan pendampingan psikologis untuk mahasiswa yang keluarganya menjadi korban bencana, baik yang meninggal, hilang kontak, maupun kehilangan harta benda. Tujuannya, memastikan para mahasiswa tetap bisa melanjutkan perkuliahan di tengah kondisi sulit.
“Kami sangat meminimalkan kemungkinan teman-teman tidak bisa melanjutkan kuliah. EM UB berkomitmen menjadi garda terdepan agar mereka tetap bisa belajar meski sedang menghadapi musibah,” pungkasnya.