Pixel Code jatimnow.com

Waspada Kebencanaan: Belajar dari Jawa Timur dan Sumatera

Editor : Ni'am Kurniawan  
Jejak erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur (dok.jatimnow.com)
Jejak erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur (dok.jatimnow.com)

jatimnow.com - Indonesia, dengan posisinya di Cincin Api Pasifik, adalah 'laboratorium' alam raksasa. Dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia kembali diingatkan betapa rapuhnya kehidupan di tengah ancaman alam.

Dua peristiwa bencana alam besar baru-baru ini, erupsi berulang Gunung Semeru di Jawa Timur dan banjir bandang dahsyat di Sumatera (khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) kembali menegaskan pentingnya edukasi kebencanaan yang komprehensif dan budaya mitigasi yang melekat pada setiap individu.

Di Jawa Timur, BMKG mencatat potensi cuaca ekstrem sepanjang Desember 2025. Hujan lebat disertai petir, angin kencang, hingga ancaman longsor melanda berbagai kabupaten.

Bahkan, operasi modifikasi cuaca dilakukan di sekitar Gunung Semeru untuk menekan curah hujan dan memitigasi risiko hidrometeorologis. 

Sementara di Sumatera, banjir bandang dan tanah longsor menelan korban jiwa lebih dari 1.000 orang. BNPB melaporkan ribuan rumah hancur, ratusan ribu warga mengungsi, dan fasilitas publik lumpuh. 

Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi saksi betapa bencana dapat meluluhlantakkan kehidupan dalam hitungan jam. 

Narasi ini bukan sekadar deretan angka. Ia adalah cermin bahwa mitigasi bencana harus menjadi budaya, bukan hanya prosedur.

Mitigasi berarti mengenali risiko sejak dini, memperkuat infrastruktur, dan menyiapkan masyarakat agar tanggap. Jalur evakuasi, sistem peringatan dini, hingga edukasi publik harus terus diperbarui. Penanggulangan bencana pun menuntut koordinasi lintas sektor.

Pemerintah, aparat, relawan, dan warga harus bersinergi. Transparansi informasi menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak hoaks.

Di Sumatera, banyak warga yang selamat karena cepat merespons peringatan dini, sementara di Jawa Timur, kesiapan menghadapi musim hujan menjadi penentu. 

Namun, di balik tragedi itu semua ada pelajaran berharga: gotong royong tetap menjadi kekuatan bangsa. Dari dapur umum hingga distribusi logistik, solidaritas masyarakat menunjukkan bahwa harapan selalu ada. 

Kontemplasi atas bencana ini mengingatkan kita bahwa hidup di negeri rawan bencana menuntut kewaspadaan permanen. Bencana tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa ditekan.

Dengan mitigasi yang matang, penanggulangan yang terencana, dan solidaritas yang terjaga, Indonesia dapat bangkit dari setiap ujian. 

Edukasi kebencanaan, adalah kunci untuk kelangsungan hidup. 

Edukasi kebencanaan harus menjadi pilar utama dalam kurikulum pendidikan dan penyuluhan masyarakat. Bukan hanya mengajarkan jenis-jenis bencana, melainkan juga cara kerja alam dan interaksi manusia di dalamnya.

Pentingnya Membaca Tanda Alam:

Erupsi Semeru: Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana gunung api harus memahami istilah dan status gunung (Normal, Waspada, Siaga, Awas). Abu vulkanik, gemuruh, atau bahkan bau belerang adalah 'pesan' dari alam yang harus direspons segera, bukan diabaikan.

Baca juga:
Menakar Nyali, Menepis Hoaks: Seni Bertahan Hidup di Negeri Cincin Api

Laporan mengenai erupsi Semeru yang terus berlangsung hingga peluncuran Awan Panas Guguran (APG) adalah pengingat bahwa zona bahaya harus dihindari.

Sementara untuk Banjir Bandang Sumatera, hujan deras yang terus-menerus selama berhari-hari, air sungai yang keruh secara mendadak, atau perubahan debit air yang ekstrem adalah sinyal bahaya.

Sebelum banjir terjadi di Sumatera, para pakar telah menyebut bahwa banjir bandang ini dipicu oleh kombinasi curah hujan ekstrem dan kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), yang memperburuk laju air.

Edukasi yang mencakup korelasi antara kerusakan lingkungan dan dampak bencana hidrometeorologi perlu ditingkatkan terhadap masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana

Seperti halnya pemahaman peta Resiko, Setiap warga harus tahu apakah mereka tinggal di zona merah erupsi, jalur lahar dingin, atau area rawan longsor/banjir. Pengetahuan ini memungkinkan mereka mengambil keputusan cepat dan tepat saat bahaya datang.

Mitigasi: Upaya Merangkul Risiko

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman.

A. Mitigasi Struktural (Fisik)

Penguatan Infrastruktur: Membangun rumah dan fasilitas umum dengan konstruksi tahan gempa, tahan angin, atau sesuai standar di wilayah rawan bencana.

Baca juga:
Para Penjaga Cincin Api: 9 Jantung Bumi yang Tak Pernah Tidur

Pasca-Semeru, fokus pada perbaikan fasilitas umum dan pembangunan Early Warning System (EWS) untuk banjir lahar sangat penting.

Pengendalian Banjir: Pembangunan tanggul, bendungan penahan sedimen (sabodam) di kaki gunung (seperti yang dibutuhkan di Semeru untuk menahan lahar), serta normalisasi sungai.

Khusus di Sumatera, reforestasi dan rehabilitasi lahan kritis di area hulu DAS sangat mendesak untuk memulihkan fungsi hutan sebagai pengendali daur air.

Penataan Ruang: Penentuan lokasi hunian yang ideal, seperti saran dari pakar UGM agar lokasi banjir bandang di Sumatera tidak lagi dijadikan hunian tetap, merupakan langkah mitigasi jangka panjang yang krusial.

B. Mitigasi Non-Struktural (Non-Fisik)

Sistem Peringatan Dini (EWS): Memastikan EWS berfungsi, teruji, dan masyarakat tahu bagaimana meresponnya. Ini termasuk sistem sirine, SMS blast, hingga peringatan melalui perangkat desa.

Pelatihan dan Simulasi: Melakukan latihan evakuasi rutin (simulasi) di sekolah, kantor, dan pemukiman, sehingga jalur dan titik kumpul evakuasi menjadi memori otot yang otomatis dijalankan saat panik.

Peraturan dan Kebijakan: Penegakan hukum terhadap illegal logging danpenambangan liar yang terbukti berkontribusi terhadap besarnya bencana hidrometeorologi (banjir dan longsor).