jatimnow.com - Begitu meninggalkan hiruk-pikuk pesisir Bali dan berkendara sejauh 60 kilometer ke arah utara dari Bandara Internasional Ngurah Rai, suhu udara perlahan menurun.
Di ketinggian 600 hingga 650 meter di atas permukaan laut, sebuah desa berdiri tegak melawan arus modernisasi.
Itulah Desa Wisata Penglipuran, sebuah pemukiman yang bukan sekadar objek foto, melainkan simbol keteguhan menjaga warisan leluhur.

Desa dengan luas 112 hektare ini menawarkan lanskap yang tak biasa. Sejauh mata memandang, hanya terlihat ketertiban.
Tidak ada kendaraan bermotor yang berseliweran di dalam lorong desa, hanya deretan gerbang tradisional yang seragam dan senyum ramah dari 1.111 jiwa yang menghuninya.
Penglipuran adalah contoh nyata tata kelola ruang yang jenius. Hampir separuh wilayahnya, yakni sekitar 50 hektare, masih dipertahankan sebagai lahan pertanian produktif.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah hutan bambu seluas 45 hektare yang mengepung desa dengan rimbun.

Hutan bambu ini bukan sekadar pemandangan. Bagi warga, ia adalah pelindung, sumber mata air, sekaligus identitas budaya.
Masyarakat setempat sangat membatasi penebangan kayu dan bambu, memastikan hanya 4 hektare hutan kayu yang dimanfaatkan secara selektif. Di sini, alam tidak dianggap sebagai komoditas, melainkan anggota keluarga yang harus dirawat.
Di balik kebersihan dan keteraturannya, ada nilai yang dipegang teguh oleh 277 Kepala Keluarga (KK) di Penglipuran: Tri Hita Karana. Filosofi Hindu ini menegaskan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.
Baca juga:
Foto: Menghidupkan Legenda Titi Situbanda dalam Harmoni Tari Kecak Bali
Nilai gotong royong di desa ini bukan sekadar slogan. Masyarakat bahu-membahu dalam mengelola pariwisata.

Jika Anda berkunjung, Anda akan bertemu dengan warga yang berperan ganda, mulai dari pemandu wisata yang fasih bercerita, perajin suvenir yang telaten, hingga pengelola homestay yang memperlakukan tamu bak saudara jauh.
Meski kini banyak warga yang beralih profesi menjadi pelaku pariwisata atau PNS, mereka tetap tidak meninggalkan akar mereka sebagai masyarakat agraris.
Setiap jengkal tanah, mulai dari tempat suci seluas 4 hektare hingga pemukiman warga seluas 9 hektare, dikelola dengan penghormatan tinggi terhadap aturan adat.

Baca juga:
Huawei F5G-A Jadi Andalan Fondasi Ultra Giga untuk Indonesia Cerdas
Menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari bandara menuju Bangli akan terbayar lunas begitu Anda menghirup udara sejuk Penglipuran.
Desa wisata Bali ini menawarkan jeda yang dibutuhkan manusia modern, sebuah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kecepatan, melainkan dari ketenangan dan kebersamaan.

Bagi para pelancong, Penglipuran adalah cermin. Ia menunjukkan bahwa pariwisata yang berkelanjutan hanya bisa tercipta jika masyarakatnya tetap memiliki prinsip yang kuat.
Di sini, Anda tidak hanya berwisata, tetapi belajar tentang cara hidup yang memanusiakan alam.
