jatimnow.com
Subsidi Dikurangi, Petani Tulungagung Diminta Gunakan Pupuk Organik

Aktivitas petani di Tulungagung

jatimnow.com - Terhitung sejak bulan Oktober ini, pemerintah mengurangi alokasi pupuk bersubsidi. Petani di Tulungagung diminta untuk beralih atau memanfaatkan pukuk organik untuk tanamanya.  

Kasi Pupuk Pestisida dan Alat Mesin Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Tri Widiyono Agus Basuki mengatakan,  pengurangan atau realokasi itu merupakan keputusan pemerintah pusat yang kemudian diteruskan ke tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

"Per akhir September lalu kami dapat surat dari pemerintah provinsi Jatim, ada beberapa pupuk subsidi yang dikurangi," ujarnya, Jumat (19/10/2018).

Dari data Dinas Pertanian Tulungagung, kebutuhan pupuk awal (sebelum ada pengurangan), Urea mencapai 27.906 ton, SP-36 1.717 ton, dan Phonska 18.067 ton. Setelah ada penurunan dari pemerintah,  jumlah alokasi pupuk berkurang menjadi Urea 27.806 ton, SP-36 1.644 ton, dan Phonska 17.577 ton. Padahal berdasar Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK)2018, kebutuhan pupuk petani sebanyak Urea 40.055 ton, SP-36 6.922 ton, dan Phonska 26.350 ton.

"Kalau merujuk dari data RDKK tentu masih sangat kurang," imbuhnya.

Tri menambahkan, pengurangan subsidi ini jelas berpengaruh kepada petani, utamanya di Tulungagung, sebab sebagian besar petani cenderung memilih pupuk kimia dibandingkan organik terutama jenis Urea.

Para petani beralasan penggunaan pupuk kimia lebih praktis dan hasilnya cepat terlihat. Padahal pupuk organik ini bagus untuk memperbaiki kondisi tanah. Salah satunya unsur hara.

"Banyak petani yang belum mengetahui manfaat jangka panjang penggunaan pupuk organik," keluhnya.

Untuk memenuhi permintaan pupuk kimia ini, Dinas Pertanian setempat mengajukan permintaan penambahan alokasi ke Provinsi.

"Diharapkan dengan tambahan yang mungkin bisa diterima bulan November ini, petani dapat bernafas lega. Sebab kita juga dituntut swasembada pangan," pungkasnya.


    

Berita Terkait