jatimnow.com - Mendirikan bangunan di kawasan wisata seperti Gili Trawangan bukan sekadar soal membeli pasir, batu, atau semen. Di pulau kecil yang bebas kendaraan bermotor ini, setiap bangunan berdiri di atas ongkos panjang, ongkos yang sebagian besarnya dipikul manusia, langkah demi langkah, dari laut ke daratan.
Para kuli angkut berjalan di air laut setinggi pinggang, memikul karung-karung material di atas kepala. Tidak ada suara mesin berat, tidak ada derek atau truk pengangkut. Laut adalah jalan raya, bahu manusia adalah alat angkut.
Langkah mereka pelan, ritmenya konsisten, seolah menyelaraskan diri dengan ombak. Setiap karung semen, setiap bongkah batu, harus turun dari perahu kecil, dipanggul melewati air, lalu disusun di daratan.
Proses yang sederhana, tetapi berulang dan menguras tenaga. Dari sinilah biaya membengkak, bukan hanya dalam rupiah, tetapi juga dalam keringat.
Setiap hotel, vila, atau restoran yang berdiri megah di Gili Trawangan menyimpan cerita panjang di balik fondasinya. Cerita tentang material bangunan yang menempuh perjalanan laut, tentang tenaga manusia yang menggantikan mesin, dan tentang harga yang melonjak karena keterbatasan ruang dan akses.
Cerita para kuli ini adalah cerita tentang biaya tersembunyi pembangunan di pulau kecil. Ketika laut menjadi jalur distribusi utama, ketika manusia masih lebih efektif daripada alat berat, dan ketika setiap kilogram material memiliki nilai yang jauh lebih mahal dibandingkan di daratan utama.
Inilah realitas mahal dan beratnya ongkos mendirikan bangunan di Gili Trawangan. Ia tampak dari punggung yang membungkuk dan langkah yang tertatih, sekaligus tercermin dalam angka-angka biaya yang berlipat ganda.
Foto ini bukan sekadar potret kerja fisik. Ia adalah kisah tentang ketangguhan, keterbatasan, dan harga ekonomi yang harus dibayar di balik pesona pulau tropis di Lombok.
Kuli angkut memindahkan karung material bangunan dari perahu ke daratan Gili Trawangan, Lombok. Tanpa alat berat dan kendaraan bermotor, bongkar muat dilakukan di laut dangkal. Bahu manusia menggantikan mesin, menjadi bagian dari ongkos mahal dan proses panjang di balik pembangunan pulau wisata ini. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Baca juga:
Foto: Gas LPG Napas Wisata Gili Trawangan
Seorang kuli angkut membawa karung semen dari bibir pantai Gili Trawangan, Lombok. Material bangunan diturunkan dari perahu kecil dan dipanggul melintasi pasir tanpa bantuan alat berat. Di pulau wisata tanpa kendaraan bermotor ini, setiap bangunan berdiri di atas tenaga manusia dan ongkos logistik yang mahal.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Kuli angkut membawa batu bangunan dari bibir pantai menuju lokasi pembangunan di Gili Trawangan, Lombok. Tanpa kendaraan bermotor dan alat berat, material dipanggul menanjak dari pantai. Di balik indahnya pulau wisata, proses pembangunan bergantung pada tenaga manusia dan ongkos logistik yang tidak murah.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Tumpukan batu menjadi saksi mahalnya ongkos pembangunan di Gili Trawangan. Tanpa kendaraan bermotor dan alat berat, material bangunan diangkut manual dari perahu ke daratan. Di balik pesona pulau wisata, fondasi bangunan berdiri di atas kerja keras dan keringat para kuli angkut.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Cidomo, kendaraan tradisional tanpa mesin mengangkut karung-karung material bangunan menyusuri jalan utama Gili Trawangan. Di pulau bebas kendaraan bermotor ini, distribusi bahan bangunan bergantung pada tenaga manusia dan hewan, menambah panjang ongkos dan beratnya proses pembangunan di kawasan wisata.(Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
URL : https://jatimnow.com/baca-81427-foto-jejak-keringat-di-fondasi-gili-trawangan