jatimnow.com - Yayasan Khadijah Surabaya menggelar Haul ke-31 KH Abdul Wahab Turcham pada Minggu, 25 Januari 2026. Bagi ribuan alumni dan masyarakat, peringatan ini bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan pengingat bahwa pendidikan dapat tumbuh tanpa kekerasan, tanpa jarak sosial, dan tanpa panggung kekuasaan.
Nama KH Abdul Wahab Turcham, pendiri Yayasan Khadijah, masih hidup dalam praktik pendidikan yang dijalankan lembaga tersebut hingga kini.
Ketua Yayasan Khadijah, H Abdullah Sani, menyebut sosok pendirinya sebagai figur langka yang memadukan ketegasan disiplin dengan kasih sayang yang konsisten.
“Beliau selalu datang ke sekolah lebih awal dari murid dan guru. Ke mana-mana naik angkot atau bus kota. Kesederhanaannya nyata, bukan slogan,” kata Abdullah Sani saat ditemui usai Haul ke-31 KH Abdul Wahab Turcham, di Islamic Centre Surabaya, Minggu (25/1/2026).
Di tengah maraknya kasus relasi keras antara guru dan murid, teladan KH Abdul Wahab Turcham terasa relevan. Setiap pagi, menurut kesaksian murid-muridnya, ia menyapa siswa satu per satu, menanyakan kabar, bahkan mengelus kepala mereka.
Sikap itu dilakukan tanpa memilih, tanpa jeda, dan nyaris tanpa nada tinggi sepanjang hari-harinya sebagai pendidik.
Ribuan santri dan pelajar Yayasan Khadijah khusyuk mengikuti rangkaian doa Haul ke-31 KH Abdul Wahab Turcham di Islamic Centre Surabaya, Minggu (25/1/2026), mengenang keteladanan pendidik yang menjunjung disiplin dan kasih sayang tanpa kekerasan. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Abdullah Sani menuturkan, kesabaran menjadi ciri yang paling diingat para alumni. “Hampir tidak pernah terdengar beliau marah. Padahal beliau memimpin, mendidik, dan membina banyak orang,” ungkapnya.
Di balik kelembutan itu, KH Abdul Wahab Turcham dikenal sebagai ulama dengan keluasan ilmu. Dalam forum bahtsul masail, namanya kerap menjadi rujukan.
Baca juga:
Khofifah Pastikan Penanganan Banjir Situbondo Dilakukan Cepat dan Terpadu
Ia juga pernah duduk sebagai anggota Konstituante, menjabat rektor pada masa awal berdirinya IAIN dan Universitas Syiah Kuala. “Ulama, pendidik, sekaligus tokoh publik. Figurnya lengkap,” kata Abdullah Sani.
Jejak pendidikannya melahirkan banyak tokoh nasional, terutama dari kalangan Muslimat Nahdlatul Ulama. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Nyai Farida Salahuddin Wahid, hingga Nyai Masruroh Wahid tercatat sebagai murid langsungnya.
Kedekatan KH Abdul Wahab Turcham dengan KH Hasyim Asy’ari juga membentuk watak pendidikannya. Ia kerap dipercaya mendampingi santri yang tidak betah mondok agar kembali tenang dan bertahan. Tugas itu memperlihatkan kepercayaan besar sang pendiri Nahdlatul Ulama kepadanya.

Baca juga:
Gedung Baru UPT RSBL Pasuruan–Kediri Diresmikan, Khofifah Tekankan Layanan ODGJ Ikhlas
Haul bertema “Merawat Sanad Ilmu, Menjaga Warisan Guru” ini berlangsung di Islamic Centre Surabaya. Selain doa bersama dan ceramah keagamaan, acara ini juga diisi santunan sosial bagi masyarakat sekitar dan disiarkan langsung melalui kanal resmi Sekolah Khadijah.
Sebelum puncak haul, yayasan menggelar napak tilas ke Makam Islam Tembok serta khotmil Qur’an pada 19–23 Januari 2026.
Abdullah Sani berharap rangkaian kegiatan sekolah Islam Surabaya ini mendekatkan generasi muda pada sejarah lahirnya Yayasan Khadijah.
“Kami ingin anak-anak tahu, lembaga ini dibangun dari disiplin, kesabaran, dan rasa hormat pada guru. Warisan ini harus dijaga bersama,” tandasnya.
URL : https://jatimnow.com/baca-81954-haul-kh-abdul-wahab-turcham-teladan-pendidikan-tanpa-kekerasan