jatimnow.com - Ada kalimat Bung Karno yang seharusnya hari ini menggema dengan lantang, bukan sekadar menjadi pemanis spanduk seremonial di setiap perayaan Dies Natalis:
”Lenyapkan steriliteit dalam gerakan mahasiswa! Nyalakan terus obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen! Agar semangat Marhaenisme bernyala-nyala murni! Dan agar yang tidak murni terbakar mati!”
Pidato tersebut disampaikan Bung Karno dalam Konferensi Besar GMNI di Kaliurang, Yogyakarta, tahun 1959. Sayangnya, banyak orang kini hanya mengutipnya sebagai slogan tanpa sungguh-sungguh meresapi daya ledaknya.
Padahal, dalam satu tarikan napas, Bung Karno tengah menyampaikan perintah politik, peringatan moral, sekaligus garis ideologis yang tegas.
Memahami Makna Steriliteit
Poin utama yang harus kita telaah secara mendalam adalah kata kunci: steriliteit. Dalam konteks gerakan, steriliteit bukanlah sekadar kondisi yang "bersih", melainkan sebuah kemandulan.
Gerakan mahasiswa bisa saja dipenuhi diskusi yang riuh, seminar yang padat, jargon yang mentereng, hingga kesibukan di media sosial, namun tetap berstatus steril. Gerakan menjadi steril saat ia kehilangan denyut nadi dengan nasib rakyat.
Ia steril ketika lebih memilih mendekat ke koridor kekuasaan ketimbang lorong-lorong sempit perkampungan. Ia steril jika hanya berani berteriak di forum namun tunduk di hadapan sponsor, dan ketika ideologi hanya menjadi hafalan tanpa keberpihakan nyata.
Bung Karno memahami betul bahwa ancaman terbesar bagi organisasi mahasiswa bukanlah represi dari luar, melainkan pengeringan jiwa dari dalam.
Organisasi yang masih memajang simbol perjuangan sering kali diam-diam bertransformasi menjadi kendaraan karier, pasar jaringan, atau sekadar ruang tunggu menuju kekuasaan.
Nama rakyat dan Marhaen tetap disebut, namun hanya sebagai ornamen pidato. Seluruh naluri politiknya telah disetel untuk mengejar akses, posisi, dan kedekatan dengan elite.
Maka, perintah "lenyapkan steriliteit" bukan sekadar instruksi untuk rajin turun ke jalan. Ini adalah perintah untuk memutuskan hubungan dengan kemalasan historis, netralitas palsu, dan kenyamanan intelektual yang membuat mahasiswa hanya menjadi penonton atas penderitaan rakyat.
Mahasiswa Sebagai Dekorasi di Dunia yang Ganas
Saat ini, Indonesia berada di tengah pusaran dunia yang keras. Globalisasi yang dulu dipasarkan dengan bahasa lembut kini berganti wajah menjadi persaingan telanjang: tarif, sanksi, keamanan energi, dan dominasi teknologi.
Masuknya Indonesia ke dalam BRICS serta upaya mempertegas posisi di Global South menunjukkan bahwa kita tidak sedang berada di luar arus, melainkan tepat di pusat gejolak.
Segala ketidakstabilan global ini bukan hal abstrak. Perang di luar sana berdampak langsung pada harga beras di pasar lokal.
Konflik geopolitik bisa menekan APBN dan mencekik ekonomi rakyat kecil. Namun, di tengah situasi kritis ini, apa yang kita lihat pada sebagian besar gerakan mahasiswa?
Sering kali yang muncul justru kebalikannya: eventisme. Gerakan terjebak dalam formalitas kepanitiaan, kontestasi internal yang dangkal, dan sekadar ajang foto bersama pejabat.
Banyak organisasi mahasiswa masih bersuara radikal secara verbal, namun tumpul dalam melakukan analisis struktur. Mereka cepat bereaksi pada isu viral, tetapi lambat membaca perubahan mendasar dalam desain kekuasaan global.
Inilah yang disebut Bung Karno sebagai steriliteit modern. Gerakan yang fasih bicara geopolitik namun terasing dari kaum miskin, buruh, dan nelayan adalah gerakan yang mandul secara sosial.
Sebaliknya, yang hanya berkutat pada retorika domestik tanpa paham peta global akan mudah tergilas zaman.
Baca juga:
Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno, PDIP Tegaskan Sikap Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Kesetiaan pada Marhaen: Sebuah Garis Politik
Bung Karno menuntut lebih dari sekadar "simpati" kepada rakyat. Ia meminta kesetiaan. Kesetiaan adalah garis politik yang menuntut konsistensi dan pengorbanan. Orang yang setia tidak akan menggunakan rakyat sebagai legitimasi verbal demi menegosiasikan jabatan.
Dalam konteks hari ini, definisi Marhaen telah meluas. Marhaen bukan hanya petani berlahan sempit, melainkan juga pengemudi ojek online yang diperas algoritma, pekerja informal tanpa perlindungan, keluarga kelas menengah yang rentan inflasi, hingga pemuda terdidik yang terjebak dalam pasar kerja yang tidak bermartabat.
Kesetiaan pada Marhaen hari ini berarti gerakan mahasiswa harus mampu memetakan siapa yang menguasai aset, siapa yang memetik rente, dan siapa yang memikul beban krisis. Tanpa analisis ini, "obor kesetiaan" tersebut hanya akan menjadi lampu hias yang tak menyinari apa pun.
Marhaenisme atau Karierisme?
Bagian penutup pidato Bung Karno sangatlah tajam: “Dan agar yang tidak murni terbakar mati!” Bung Karno menggunakan bahasa api karena gerakan memang memerlukan kedisiplinan, bukan sekadar protokol birokrasi.
Ketidakmurnian dalam organisasi sering mewujud dalam bentuk oportunisme, pragmatisme, dan karierisme. Ketika organisasi dianggap sebagai anak tangga menuju jabatan, saat itulah ia membusuk.
Sangat memprihatinkan melihat organisasi yang simbolnya revolusioner namun orientasinya transaksional; benderanya merah, namun imajinasi sosialnya sangat birokratis.
Penyakit ini tumbuh dari dalam: melalui budaya senioritas yang tidak mendidik, kegemaran menghafal tanpa berpikir, hingga kebiasaan menikmati remah-remah kekuasaan sambil menuduh orang lain terkooptasi. Gerakan harus berani "membakar" kerak oportunisme ini di dalam dirinya sendiri.
Masa Depan GMNI: Audit Energi dan Gerakan
Menilik kritik Suko Sudarso dan Rahman Tolleng, kita dihadapkan pada kenyataan pahit: krisis Indonesia hari ini berpangkal pada krisis gerakan.
Organisasi yang seharusnya menjadi pabrik kepemimpinan strategis justru sering kali menjadi ekosistem reproduksi elitisme baru.
Baca juga:
Indah Kurnia Ajak Kawanua Surabaya Jaga Persatuan Lewat Warisan Bung Karno
Di hari jadinya, GMNI dan seluruh gerakan mahasiswa seharusnya melakukan refleksi mendalam:
1. Mempertajam Analisis Struktur: Menghubungkan isu global (seperti BRICS dan harga energi) dengan penderitaan konkret rakyat di akar rumput.
2. Hubungan Nyata dengan Marhaen: Hadir secara konsisten dalam persoalan agraria, pendidikan, kesehatan, dan ekologi.
3. Pembersihan Watak: Menolak karierisme dan gaya hidup organisasi yang mewah secara simbolik namun miskin keberpihakan.
4. Produsen Gagasan: Kembali menjadi kawah candradimuka pemikiran besar tentang masa depan bangsa, bukan sekadar peserta lalu lintas isu.
Penutup: Menguji Nyala Api
Pidato Kaliurang 1959 adalah sebuah alarm. Bangsa ini membutuhkan gerakan mahasiswa yang tidak steril—yang paham zaman, setia pada rakyat, dan memiliki keberanian moral untuk tidak menjual dirinya.
Bagi GMNI, ulang tahun ke-72 (dan seterusnya) seharusnya bukan sekadar perayaan usia, melainkan perayaan api. Organisasi tidak diukur dari panjang usianya, melainkan dari apakah nyalanya masih cukup panas untuk membakar kepalsuan di dalam dirinya sendiri.
Pertanyaannya tetap sama: Masihkah obor kesetiaan itu menyala, atau kita sebenarnya hanya sedang menjaga tumpukan abu?
Oleh: Eko Muhammad Ridwan
Ketua Umum RRI/Ranggah Rajasa Indonesia dan Alumni GMNI Surabaya