Pixel Code jatimnow.com

Fenomena El Nino Godzilla Tingkatkan Risiko Kekeringan hingga ISPA

Editor : Yanuar D  
Ilustrasi. (Foto: Unsplash/Oleksandr Sushko)
Ilustrasi. (Foto: Unsplash/Oleksandr Sushko)

jatimnow.com - Risiko kekeringan, krisis air bersih, penurunan hasil panen hingga meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat di tengah fenomena El Nino Godzilla. Untuk mengantisipasinya, BPBD Kota Kediri bersama BMKG Dhoho tengah memperkuat langkah mitigasi dan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

Perwakilan BMKG Dhoho, Satria Kridha Nugraha menjelaskan, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung hingga Agustus, sementara defisit curah hujan terbesar berpotensi terjadi pada September hingga November 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang membuat musim kemarau terasa lebih kering.

Menurutnya, dampak paling besar akan dirasakan di berbagai sektor. Di bidang pertanian, berkurangnya ketersediaan air irigasi berpotensi menurunkan hasil panen, meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman, serta memengaruhi produktivitas padi akibat suhu udara yang lebih tinggi.

Sementara di sektor kesehatan, cuaca panas diperkirakan meningkatkan risiko ISPA, dehidrasi, hingga heat stroke, terutama pada September hingga November. Selain itu, musim kemarau yang lebih kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan serta mengurangi ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Satria menegaskan, El Nino merupakan fenomena alam yang tidak disebabkan langsung oleh perubahan iklim. Namun, perubahan iklim dapat memperparah dampaknya sehingga suhu udara menjadi lebih panas dan musim kemarau terasa semakin kering.

Ia mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air dan menjaga kesehatan. Petani juga diharapkan menyesuaikan waktu tanam, memanfaatkan air irigasi secara efisien, serta menerapkan pertanian berkelanjutan. Pemerintah daerah pun diminta memastikan ketersediaan air bersih, memperkuat mitigasi kebakaran, serta memanfaatkan informasi dan peringatan dini dari BMKG sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Baca juga:
Krisis Air Bersih di Pakusari Jember, Warga Terpaksa Beli Air untuk Minum

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, mengatakan pihaknya telah memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi dampak kekeringan ekstrem.

BPBD berkoordinasi dengan BMKG Dhoho untuk memantau perkembangan cuaca, bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mengantisipasi potensi gagal panen, serta menggandeng PDAM menyiagakan armada tangki air bersih bagi wilayah terdampak kekeringan.

Selain itu, BPBD juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk menyiapkan fasilitas layanan kesehatan dan ketersediaan obat-obatan guna mengantisipasi penyakit akibat cuaca panas, seperti dehidrasi, ISPA, dan heat stroke.

Baca juga:
Anomali Cuaca! Masuk Musim Kemarau, Surabaya Malah Dikepung Banjir

Joko mengimbau masyarakat menggunakan air bersih secara hemat, tidak membakar sampah maupun membuang puntung rokok di lahan kering, serta menjaga kesehatan dengan memperbanyak minum air putih dan mengurangi aktivitas di bawah terik matahari.

“Yang tidak kalah penting adalah tanggap melapor. Apabila masyarakat mengalami krisis air bersih maupun menemukan kejadian kebakaran di wilayahnya, segera laporkan melalui layanan Mbak Wali 112 agar dapat segera ditindaklanjuti,” pungkasnya.