Pixel Code jatimnow.com

Awas Bahaya Sound Horeg, Pakar Ingatkan Ancaman Tuli Permanen hingga Vertigo

Editor : Dadang Kurnia  
Bahaya sound horeg (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)
Bahaya sound horeg (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)

jatimnow.com – Maraknya fenomena sound horeg saat perayaan HUT Kemerdekaan RI menyita perhatian dari sisi kesehatan medis. Pakar otologi dan neurotologi Universitas Airlangga (Unair), dr. Rosa Falerina, mengingatkan bahwa dentuman suara berdesibel ekstrem tersebut menyimpan potensi bahaya nyata, mulai dari risiko tuli permanen hingga gangguan keseimbangan tubuh (vertigo).

Menurut Rosa, intensitas suara sound horeg umumnya berada di atas 120 desibel, yang tingkat kebisingannya setara dengan raungan mesin pesawat terbang lepas landas. Paparan sekuat ini sangat mematikan bagi rumah siput (koklea) dan sel-sel rambut di dalam telinga.

"Suara yang sangat keras membuat sel rambut di dalam koklea bekerja ekstra hingga menjadi tidak bergerak atau tumbang seperti hutan yang gundul. Jika sel-sel rambut ini rusak dan gugur, suara tidak akan memiliki jalan lagi untuk sampai ke otak," jelas Rosa.

Dosen FK Unair tersebut menjelaskan bahwa sensasi telinga berdenging pasca-mendengar dentuman sound horeg merupakan bentuk alarm peringatan alami dari tubuh.

Apabila warga langsung menjauh saat telinga mulai berdenging, fungsi pendengaran masih berpeluang untuk pulih. Namun, jika paparan dibiarkan berlangsung lama dan denging menetap, gangguan pendengaran tersebut berisiko menjadi cacat permanen.

Lebih mengerikan lagi, suara ekstrem juga berisiko tinggi membuat selaput gendang telinga robek atau pecah.

Selain ketulian, dentuman sub-bass frekuensi rendah dari sound horeg terbukti memicu vertigo. Hal ini terjadi karena posisi organ pendengaran dan sistem keseimbangan tubuh di telinga dalam saling berdekatan.

Baca juga:
Pemkab Kediri Atur Penggunaan Sound System untuk Karnaval HUT RI

"Koklea itu bertetangga dengan sistem keseimbangan di telinga dalam. Dentuman yang sangat kuat tak hanya mengguncang rumah siput, tetapi juga menyenggol sistem keseimbangan, sehingga memicu sensasi berputar atau vertigo," ungkapnya.

Ia membeberkan fakta bahwa dirinya pernah menangani pasien ibu dan anak yang mengalami penurunan pendengaran serta denging berkepanjangan, padahal sound horeg tersebut hanya sekadar lewat di depan rumah mereka.

Dari kacamata medis, ambang batas toleransi telinga manusia untuk intensitas suara di atas 120 desibel sangatlah minim, yakni hanya sekitar 3,5 detik per hari.

Baca juga:
Polres Tulungagung Larang Penggunaan Sound Horeg Dalam Kegiatan SOTR

Terkait upaya perlindungan, Rosa memaparkan beberapa langkah krusial. Pertama, penggunaan sumbat telinga (earplug) saja tidak cukup karena hanya meredam sekitar 30 desibel. Idealnya, warga harus mengkombinasikannya dengan penutup telinga (earmuff).

Selain itu, alat pelindung hanya menahan suara dari liang telinga. Gelombang suara ekstrem dari sound horeg tetap bisa merambat merusak organ dalam melalui hantaran tulang kepala. Cara paling efektif adalah menjauh dari sumber suara.

Ia juga mengingatkan untuk menjauhkan bayi, anak-anak, dan lanjut usia dari lokasi konvoi sound horeg. Kemudian, jika muncul keluhan denging hebat, nyeri, atau penurunan pendengaran pasca-acara, jangan tunda untuk segera memeriksakan diri ke dokter THT terdekat.