Tradisi Puter Kayun Warnai Atraksi Syawal di Banyuwangi


Arak-arakan tradisi Puter Kayun menggunakan dokar./Foto:

jatimnow.com – Memasuki hari ke sepuluh Bulan Syawal, Banyuwangi memiliki tradisi yang diistilahkan Puter Kayun.

Puter Kayun itu sendiri merupakan kirab menggunakan Dokar dari Kelurahan Boyolangu menuju Watu Dodol di Desa Ketapang.

Tradisi itu dikenal sebagai ritual menepati janji warga Boyolangu kepada leluhur yang berjasa membuka jalan di kawasan utara Banyuwangi menuju Kabupaten Situbondo.

Dengan mengenakan pakaian adat serba hitam dan udeng khas Banyuwangi pulahan warga menaiki 20 Dokar memenuhi janji ritual Puter Kayun dengan membawa berbagai perbekalan yang akan dibuka setiba di Watu Dodol.

Salah seorang warga Boyolangu, Baiturrohman (33) mengaku, sejak kecil dirinya mengikuti tradisi yang digelar tepat di hari ke 10 Bulan Syawal itu untuk membuktikan ketaatan mereka kepada leluhur.

“Ini ritual wajib dan harus diikuti. Tradisi ini kan menyenangkan, bisa pergi ke watudodol rame-rame naik dokar. Apalagi saat di sana nanti kita gelar selamatan,” katanya.

Untuk kali ini tradisi Puter Kayun dibuka oleh staf ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Sudjani. Dia mengatakan bahwa tradisi tersebut menjadi agenda rutin Banyuwangi Festival (B-Fest) yang tumbuh dan berasal dari masyarakat serta dapat menjadi identitas budaya.

Oleh karenanya, pemerintah daerah akan terus mendukung dan mewadahi supaya kelestariannya dapat dipertahankan.

Sudjani menambahkan, begitu menariknya tradisi ini nantinya akan dijadikan tema dalam Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2018.

“Banyuwangi festival akan konsisten mengangkat tradisi lokal masyarakat setempat, termasuk tradisi Puter Kayun Boyolangu ini. Selain untuk menjaga tradisi dan ritual yang ada, ini juga sebagai cara untuk menumbuhkan banyak obyek atraksi wisata di Banyuwangi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Muhamad Ikrom menambahkan, tradisi ini akan terus digelar sebagai napak tilas jejak Ki Buyut Jakso, leluhur warga Boyolangu yang dipercaya sebagai orang yang pertama kali membangun jalan di kawasan utara Banyuwangi.

"Konon, saat membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan Ki Buyut Jakso karena bagian utara ada gundukan bukit batu yang tidak bisa dibongkar. Ki Jakso lalu bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu. Atas kesaktiannya, akhirnya dia bisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya watu didodol (dibongkar)," ujar Ikrom.

Sejak jalan yang menghubungkan Banyuwangi-Situbondo terbuka, lanjut Ikrom, Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucu keturunannya untuk berkunjung ke Pantai Watu Dodol melakukan napak tilas.

"Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar untuk napak tilasnya,” ujarnya.

Sesampainya di Watu Dodol, para rombongan menggelar selamatan. Beberapa tokoh adat juga menaburkan bunga berbagai rupa ke laut sebagai bentuk penghormatan bagi pendahulu yang gugur meninggal saat pembuatan jalan itu.

Sebelum pelaksanaan Puter Kayun, untuk mengawali tradisi ini diawali beberapa ritual. Mulai dari nyekar ke makam Buyut Jakso dan menggelar tradisi kupat sewu (seribu ketupat) selama tiga hari yang kemudian sebagai acara puncaknya yakni tradisi Puter Kayun dan pertunjukan barong pada malam harinya.

Reporter: Hafiluddin Ahmad
Editor: Erwin Yohanes

Tinggalkan Komentar

jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter