Mangrove Wonorejo, 'Prasasti' Persaudaraan Surabaya dan Papua

Editor: Narendra Bakrie / Reporter: Farizal Tito

Wali Kota Liverpool saat hunting foto di Mangrove Wonorejo, Rungkut, Surabaya

jatimnow.com - Pagi itu, udara Mangrove Wonorejo, Rungkut, Surabaya, terasa sejuk dan segar. Embun di dedaunan pohon mangrove masih terlihat. Namun, para pengunjung sudah berdatangan untuk menikmati akhir pekan di hutan bakau.

Perlahan mereka mulai memasuki hutan belantara yang rindang. Menerobos melalui jalan kayu yang ditata rapi dan kokoh bak jembatan. Suasananya hening dan nyaman untuk tempat singgah. Terutama untuk melepas penat akibat beban pekerjaan.

Menelusuri kawasan itu, akan sampai pada pohon mangrove yang lebat dan membentuk sebuah lorong buatan. Lokasi inilah yang menjadi spot favorit para pengunjung untuk berfoto bersama pasangan atau pun keluarga. Sangat instagramable dan terlalu sayang untuk dilewatkan.

Di sisi yang lain, terdapat sebuah dermaga yang selalu ramai pengunjung. Melalui perahu yang disediakan oleh pengelola, para pengunjung akan diajak melihat pemandangan yang indah dan rindang.

"Tempat ini sangat cocok untuk berakhir pekan melepas penat. Saya langsung lupa beban pekerjaan kalau sudah berkunjung ke sini, makanya saya sering ke sini," kata Adi yang berkunjung bersama istrinya.

Di balik keindahan alamnya itu, ternyata tersimpan sejarah persaudaraan antara warga Kota Surabaya dengan warga Papua. Bahkan, kawasan itu seakan menjadi "prasasti" dari jalinan persaudaraan yang erat tersebut. Kenangan itulah yang akan terus diingat oleh Soni Mohson, salah satu pelestari hutan bakau yang berasal dari Wonorejo, Surabaya.

Meski sudah 14 tahun silam, ingatan itu akan abadi di benak Soni Mohson, terutama tentang asal usul Mangrove Wonorejo. Tahun 2005 itu, merupakan momen dimulainya kebangkitan Mangrove Wonorejo. Saat itu, Lurah Wonorejo M. Fikser membuat gerakan penanaman mangrove bersama mahasiswa Papua yang kuliah di Surabaya.

"Mahasiswa asal Papua itu dibawa oleh Pak Fikser. Mereka semangat sekali menanam mangrove saat itu. Meskipun kakinya kena lumpur, kena tiram yang lancip, tak menghalanginya untuk terus menanam mangrove. Itu yang saya salut dari mereka," kata Soni saat dihubungi, Jumat (13/9/2019).

Soni menjelaskan, ide untuk membersihkan dan menanam mangrove itu memang datang dari Fikser yang kini menjabat Kabag Humas Pemkot Surabaya. Saat itu, Fikser ikut prihatin karena kondisi kawasan itu gundul akibat pembalakan liar.

"Meskipun ada sedikit pertentangan warga, dia maju terus dan semakin semangat menanam dengan adik-adiknya dari Papua. Itulah prestasinya yang tidak akan pernah kami lupakan, sangat luar biasa dan kerja nyata," ujarnya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkot Surabaya M. Fikser juga mengenang momen itu. Pria kelahiran Serui, Kepulauan Yapen, Papua, itu mengaku awalnya memang mendapatkan pengaduan dari Soni Mohson tentang pembalakan liar di Mangrove Wonorejo. Setelah itu, perlahan tapi pasti dia terus melakukan pembersihan dan penanaman mangrove. Namun, dia tidak sendirian, tapi dibantu oleh mahasiswa-mahasiswa Papua yang kuliah di Surabaya.

"Ketimbang mereka hanya di kosannya, akhirnya saya ajak mereka," ungkap Fikser yang juga menjabat Bendahara Ikatan Keluarga Besar Papua di Surabaya (IKBPS) ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskominfo ini juga menceritakan, awalnya mengajak para mahasiswa Papua hanya untuk refreshing dan menikmati keindahan alam dengan naik perahu seperti di kampung halamannya, Papua. Di sela refreshing itu, Fikser mencoba mengajak mereka untuk menanam mangrove dan ternyata mereka sangat antusias.

Mereka semakin semangat setelah menemukan banyak kerang yang bentuknya lonjong hitam dan panjang. Di Papua, kerang itu dimakan, tapi kalau di Jawa, tidak ada yang mau makan kerang tersebut. Temuan ini seakan menjadi penyemangat baru bagi para mahasiswa asal Papua itu.

"Jadi tidak hanya menanam saja, tapi juga rekreasi di sungai dan laut, serta bisa makan kerang seperti yang ada di Papua. Kadang kami juga bakar-bakar di pinggir pantai, jadi senang sekali," kata dia.

Aktivitas menanam mangrove itu dilakukan Fikser beserta adik-adik Papua-nya rutin tiga kali dalam seminggu. Sekali berangkat menanam, Fikser bersama 20-25 mahasiswa Papua. Proses penanaman rutin itu dilakukannya selama kurang lebih 7 bulanan, sehingga jumlahnya sangat banyak dan ribuan.

"Jadi, mengrove yang saat ini menyebar di sana dan menjulang tinggi, itu yang menanam adalah adik-adik mahasiswa Papua yang sedang kuliah di Surabaya," tegasnya.

Menurut Fikser, selama 7 bulan itu, banyak pengalaman berharga yang didapatkan bersama adik-adik mahasiswa Papuanya. Sebab saat menanam itu, ada warga yang menentang karena mengaku tanahnya yang ditanami. Di samping itu, ada banyak warga yang mendukung gerakannya, sehingga berkali-kali ada warga yang memberikan makanan dan minuman. Bahkan tidak jarang, para nelayan memberikan hasil tangkapannya (ikan) kepada para mahasiswa Papua.

"Di situlah kami merasa sangat dekat dengan warga Wonorejo. Kami banyak disupport oleh warga, karena mahasiswa Papua ini bekerja dengan ikhlas tanpa pamrih dan warga memahami itu, sehingga rasa kekeluargaan kami benar-benar terasa kala itu. Saya juga sebagai lurah mudah masuk ke semua kalangan," katanya.

Selain itu, mahasiswa Papua juga mendapatkan banyak ilmu tentang cara membudidayakan buah mangrove. Bahkan sampai saat ini, ada salah satu mahasiswa yang menjadi aktivis lingkungan, terutama mangrove di kampungnya, sehingga pelajaran berharga yang didapatkan di Surabaya diterapkan di kampung halamannya.

"Jadi, ada hubungan timbal balik yang kami dapatkan. Warga Surabaya dibantu menanam mangrove dan mahasiswa Papua dapat ilmunya," imbuhnya.

Hingga pada suatu waktu, ada program sejuta pohon untuk negeri dari Yayasan Sampoerna. Alhasil, sejak saat itulah penanaman mangrove di Wonorejo digalakkan hingga besar seperti sekarang ini. Momen itu menjadi kebangkitan Mangrove Wonorejo, sehingga banyak pembangunan di sana hingga bisa dinikmati seperti saat ini.

"Ternyata, mangrove ini menjadi cikal bakalnya Kebun Raya Mangrove pertama dan terbesar di dunia, seperti yang dicita-citakan Bu Wali (Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini)," ujar Fikser.

Ikatan Persaudaraan Selain Mangrove Wonorejo

Meskipun sudah lama terjalin persaudaraan antara Surabaya dan Papua, tapi keberhasilan penanaman Mangrove Wonorejo menjadi titik awal semakin eratnya persaudaraan itu. Makanya, ketika mencuat isu miring tentang rasisme di Kota Pahlawan, warga Surabaya dan Papua menunjukkan tali persaudaraannya di Car Free Day (CFD) Taman Bungkul, Minggu (25/8/2019).

Secara tiba-tiba, pagi itu anak-anak Papua yang turut hadir di CFD Taman Bungkul diajak menari ketika lagu-lagu Papua bergema. Warga Surabaya dan anak-anak Papua itu menari dan bernyanyi bersama mengikuti lagu Sajojo, Aku Papua dan Tanah Papua. Mereka semua larut dalam tali persaudaraan yang tak akan pernah terlepaskan.

Saat itu, mereka juga berpegangan tangan, sangat erat. Bahkan, aksi pelukan juga mewarnai sejuknya pagi itu. Rasa kekeluargaan dan persaudaraan nampak merekah di wajah mereka. Akhirnya, bergaunglah sebuah tagar #SurabayaPapuaBersaudara. Tagar itu cukup ramai di media sosial.

"Ini bukti nyata eratnya tali persaudaraan antara Surabaya dan Papua. Semua bisa hidup dan bergandengan tangan di sini dan kami juga merasa senang dan merasa nyaman tinggal di Kota Surabaya," tutur Daniel Mabamba, salah satu warga asli Papua yang turut menikmati acara itu.

Terlepas dari itu semua, persaudaraan Surabaya dan Papua juga seringkali diperlihatkan saat Pemkot Surabaya menggelar berbagai acara. Berdasarkan data yang dihimpun dari Bagian Humas Pemkot Surabaya, beberapa tahun terakhir ini warga Papua selalu dilibatkan dalam berbagai acara Pemkot Surabaya. Di antaranya adalah Surabaya Vaganza, Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) hingga acara-acara welcome dinner yang sering digelar oleh Pemkot Surabaya untuk menyambut tamu-tamu dari berbagai penjuru dunia.

Selain itu, beberapa kali pula Mama Papua berkunjung ke Surabaya untuk belajar berbagai hal. Pada tahun 2016, ada 20 Mama Papua yang belajar keterampilan dan wirausaha di Surabaya. Tahun-tahun berikutnya, Mama Papua juga belajar pengembangan UMKM , belajar tanam sayur, bikin baju hingga pengelolaan sampah.

Sejarah panjang kepedulian Wali Kota Risma kepada anak-anak Papua yang kuliah di Surabaya beserta warga Papua secara keseluruhan, akhirnya berbuah gelar kehormatan Mama Papua. Gelar itu disematkan kepada Wali Kota Risma pada tahun 2017, sehingga menambah eratnya tali persaudaraan itu.

"Cerita perjuangan Mangrove Wonorejo dan eratnya persaudaraan Surabaya dengan Papua, tentu tidak akan mudah dipisahkan, apalagi hanya karena isu miring semata," ungkap Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua di Surabaya (IKBPS), Pieter Frans Rumaseb.

Pieter pun menjelaskan sebaran orang asli Papua yang tinggal di Kota Surabaya. Menurutnya, orang asli Papua di Surabaya tercatat sebanyak 1.500 orang. Mereka tergabung dalam tiga organisasi. Pertama, IKBPS yang merupakan organisasi bagi orang Papua yang menetap di Surabaya. Organisasi ini berdiri tahun 2003 dengan jumlah anggota sekitar 400 orang dari lintas profesi, ada pedagang, pendeta, PNS dan pekerja swasta.

Kedua, IPMAPA (Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua) yang terdiri dari 28 koordinator wilayah daerah asal. Organisasi ini berdiri tahun 1977 dengan jumlah anggota sekitar 800 orang dari pelajar dan mahasiswa. Ketiga, AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) yang berdiri tahun 2008 di Yogyakarta dan menempati basecamp asrama Mahasiswa Papua di Kalasan.

"Inilah kira-kira gambaran orang Papua di Surabaya," ujar Pieter.

Pieter juga menambahkan, yang terakhir yang sedang digalakkan oleh Pemkot Surabaya untuk membantu warga Papua adalah pengumpulan buku. Nantinya, buku ini akan disalurkan kepada warga Papua, terutama sekolah-sekolah dan perpustakaan yang ada di Papua.

"Jadi, begitu pedulinya Pemkot Surabaya dan warga Surabaya kepada Papua," tambahnya.

Oleh karena itu, dia juga mengajak adik-adik mahasiswanya untuk meniru kakak-kakak seniornya dalam mengarungi hidup di Pulau Jawa, terutama tentang adaptasi dan jalinan persaudaraan dengan lingkungan sekitarnya. Ia memastikan bahwa warga Surabaya itu sangat ramah dan terbuka bagi siapapun, sehingga tudingan-tudingan miring itu tidak benar.

"Toh isunya sekarang sudah bergeser bahwa ada aktor di balik gerakan ini. Jadi kami pastikan persaudaraan Surabaya dengan Papua akan terus terjalin dengan baik ke depannya. Apalagi Bu Wali sudah menganggap adik-adik Papua sebagai anaknya sendiri, kurang apa lagi," imbuhnya.

Sementara itu, Wali Kota Risma memastikan bahwa hubungan masyarakat Surabaya dengan warga asli Papua berjalan baik, seperti saudara. Bahkan, Wali Kota Risma menganggap adik-adik mahasiswa Papua seperti anaknya sendiri. Selama menempuh pendidikan di Surabaya, mereka juga diberikan fasilitas dalam upaya mengembangkan bakat dan minat, seperti pelatihan komputer dan Bahasa Inggris.

"Mereka kan jauh dari orang tuanya, karena itu saya selalu sampaikan ke anak-anak itu agar menjadi orang yang sukses. Orang tuamu di sana pingin anaknya jadi. Mesti kalau ketemu anak-anak saya selalu sampaikan itu," kata Wali Kota Risma saat bertemu Ketua Masyarakat Adat Tanah Papua sekaligus Staf Khusus Presiden untuk wilayah Papua, Lenis Kogoya di rumah dinasnya beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu, Wali Kota Risma juga mengaku warga Papua yang tinggal dan menetap di Surabaya juga biasa berbaur dengan masyarakat sekitar dan juga terlibat dalam kegiatan di kampung. Bahkan, banyak juga warga asli Papua yang sukses di Surabaya dan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Surabaya.

"Ada Kabag Humas itu asli dari Papua, dua Camat di Surabaya juga asli Papua, terus ada Kepala Bidang Satpol PP juga dari Papua. Masyarakat di Surabaya ini multi etnis, ada dari Ambon, Aceh, Pontianak, Padang, NTB, kita tidak pernah membeda-bedakan, semuanya ada di Surabaya dan hidup berdampingan di Surabaya," pungkasnya.


jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter