Aplikasi Kencan Online Jadi Penyebab Meningkatnya PMS

Editor: REPUBLIKA.co.id / Reporter: REPUBLIKA.co.id

Salah satu aplikasi kencan buta, Tinder. Ilustrasi. Foto: Ubergizmo

REPUBLIKA.CO.ID, HONOLULU -- Dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan penyakit menular seksual (PMS) di Hawaii, AS melonjak ke angka tertinggi. Laporan tersebut belum lama ini mulai dikaitkan dengan prevalensi kencan online.

Beberapa kasus seperti klamidia, gonore, dan sifilis hingga kini telah meningkat secara signifikan di negara bagian Amerika Serikat (AS) tersebut. Berdasarkan laporan dari Layanan Pengurangan Dampak Buruk Departemen Kesehatan setempat, ketiga penyakit infeksi tersebut, dalam 30 tahun terakhir sudah mulai mendekati tingkat tertinggi yang pernah ada.

Pejabat kesehatan Hawaii mencatatkan, bahwa ada sekitar 7.732 kasus klamidia pada 2018. Jumlah tersebut mengalami kenaikan yang cukup tinggi dibandingkan 2008 lalu dengan kasus yang berjumlah 5.972 kasus.

Namun demikian, kasus Gonore nyatanya memiliki korban terdampak lebih dari dua kali lipat selama 10 tahun terakhir. Dari 611 kasus, saat ini angkanya melonjak menjadi 1.496 kasus. Jumlah tersebut juga sejalan dengan kasus infeksi sifilis yang meningkat, menjadi 180 kasus dari 38 kejadian dalam satu kurun waktu satu dekade.

Menurut pihak Departemen Kesehatan, penyebab melonjaknya infeksi dialami karena banyak hubungan yang dilakukan secara instan melalui layanan kencan daring.

"Karena orang bergantung pada sarana digital untuk membuat koneksi, hal itu dapat menyebabkan keadaan di mana mereka mungkin lebih rentan terkena infeksi tanpa mereka sadari," kata koordinator program untuk cabang pengurangan dampak buruk negara, Gerald Hasty seperti dilansir AP, Selasa (15/10).

Hasty mengatakan, semakin banyak pasangan dalam kencan daring tersebut, semakin tinggi juga peluang untuk mendapatkan infeksi menular. Selain itu, penurunan ketergantungan pada kondom atau tindakan pencegahan lain juga menyebabkan penyebaran PMS mengalami peningkatan.

Jumlah infeksi klamidia, gonore dan sifilis di Hawaii tersebut juga mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir secara berturut-turut. Menurut Hasty, peningkatan tersebut memang sangat tidak diinginkan, tapi nyatanya datang secara tak terduga.

"Dalam prosesnya, ketiga infeksi tersebut tidak menyebabkan gejala awal yang berbeda atau mengganggu. Alhasil, mereka yang terinfeksi sama sekali tidak mengetahuinya,” kata Hasty.

Dia menjelaskan, hal tersebut nyatanya menentukan setiap tahap penyebaran infeksi tersebut.

 

Lihat Artikel Asli

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama jatimnow.com dengan Republika.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Republika.co.id.


jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter