Patung Karapan Sapi di Jantung Surabaya Nasibmu..

Foto-foto: Patung Karapan Sapi (Eric Ireng/ Suroboyo.Live)

jatimnow.com - Di jantung Kota Surabaya terdapat patung Karapan Sapi. Ciri khas Madura itu diapit Jalan Panglima Sudirman dan Basuki Rahmat.

Siapa sangka, patung yang kerangkanya berasal dari tembaga itu pernah menjadi korban tangan jahil. Di bagian punggung hingga perut salah satu patung sapinya berlubang karena tembaganya dicuri.

Suroboyo.Live sempat mengabadikan dan menyiarkan di YouTube. Peristiwa itu terjadi pada bulan Oktober 2020.

"Saya potret yang gorowok itu 6 Oktober 2020 dan sudah ditambal 15 November 2020," kata Eric Ireng, Host Suroboyo.Live kepada jatimnow.com, Senin (16/11/2020).

Patung itu awalnya dibuat1990 oleh I Nyoman Nuarta yang sekarang menetap di Bandung. Nyoman Nuarta juga yang menciptakan Patung Jalesveva Jayamahe di komplek TNI AL, Ujung, Surabaya.

I Nyoman Nuarta buka suara menanggapi karya seninya yang jadi korban kejahatan itu.

"Itu pasti dicuri lha karena bahannya itu tembaga," kata I Nyoman Nuarta.

I Nyoman Nuarta melalui channel YouTube Suroboyo.Live juga menyesalkan pemberian warna merah pada patung tersebut.

"Saya lihat warnanya jadi merah itu. Waduh ini mungkin di cat atau apa. Begini patung itu kenapa bahannya tembaga, biarkan dia diwarnai oleh alam seperti patung di belakang saya yang warnanya kehijau-hijauan tergantung udara di Surabaya. Kalau banyak asamnya bercampur dengan udara laut itu maka warnanya malah jadi bagus. Kalau menurut saya itu ya," kata I Nyoman Nuarta dalam channel YouTube tersebut.

"Jadi memang kelihatan, kita pilih tempatnya agar lebih alami warnanya tanpa perlu banyak perbaikan. Cukup kalau berdebu tinggal disemprot, debunya hilang dan patungnya kembali. Kenapa kita pilih warna itu yang akan menjadi kehijau-hijauan tosca sebenarnya ya. Tapi kan gak tahu kebijakan darimana, itu di cat atau diapakan. Lho kok jadi begini?" lanjutnya keheranan.

Eric juga mengaku telah berbicara dengan I Nyoman Nuarta agar patung ini tetap terawat meski tidak menggunakan dana APBD.

"Beliau (I Nyoman Nuarta- red) bilang kenapa tidak merangkul swasta. Jangan pakai uang APBD. Kenapa ndak rangkul swasta dan lainnya. Pakai prasasti, penghargaan buat mereka. Jangan pakai baliho-baliho besar justru akan mengotori pemandangan kota. Yo wis rek nanti lihat sendiri," lanjutnya.

I Nyoman Nuarta juga menyarankan Pemkot Surabaya untuk merangkul swasta demi merawat patung Karapan Sapi.

"Lha ini Surabaya, jangan banyak memakai anggaran Pemda (Pemkot-red). Menurut saya, lebih bagus kerjasama dengan swasta. Berikan hak, semacam prasasti dengan kata-kata mutiara berukuran 90x60, kecil cukup. Jadi kota itu tetap indah. Ndak perlu baliho ramai-ramai," papar dia.

Ia mengingatkan agar melibatkan ahlinya bila melakukan perbaikan atau perawatan.

"Patung ini nampak tidak terawat. Biasanya kalau terawat itu pasti manggil kami. Karena kami tahu caranya gitu kan ya," katanya.

Patung Karapan Sapi itu kini tidak lagi growak di bagian punggung hingga perut, sudah ditambal. Namun, hasilnya sangat disesalkan.

Loading...

"Nambalnya sembarangan, wong bukan pematung. Yang saya sesalkan kenapa tidak manggil pematungnya sendiri," kata sang host.

Karena bukan seniman, Eric, melihatnya asal tempel saat melakukan penambalan. Video yang diunggah di YouTube berjudul 'Patung Karapan Sapi Direstorasi Bukan Oleh Pematungnya Sendiri, Prihatin..'

"Tapi bagaimana lagi, saya sudah berusaha. Bukan wewenang saya mencari jalan keluar. Tapi saya Arek Suroboyo ya kepingin ini ya awet ya," ujar dia.

Berita Terkait