jatimnow.com
Tetap Waspada! Banjir Bandang di Kota Batu Masih Bisa Terjadi Lagi

Foto drone Perum Jasa Tirta I soal potensi bencana di Kota Batu

Kota Batu - Masyarakat Kota Batu yang berada di bantaran sungai diminta tetap waspada dan siaga. Sebab potensi banjir bandang masih mengintai.

Kemungkinan itu muncul setelah penelusuran lahan hulu kawasan Pusung Lading dan sekitarnya. Berdasarkan hasil potret drone, pada beberapa titik di kawasan hulu Kota Batu memang terjadi penggundulan hutan.

Tidak itu saja, ada satu blok hutan lindung lain yaitu Glagah Wangi yang terletak di sisi barat Pusung Lading juga mengalami penggundulan.

Hotel Sahid Surabaya 2222 Best Wedding Dates

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Raymond Variant Ruritan menjelaskan, berdasarkan pantauan foto drone, kawasan Glagah Wangi juga sudah muncul perubahan tata lahan.

"Ini berpotensi membahayakan dan bukan tidak mungkin bakal terjadi seperti hulu Pusung Lading jika tidak dilakukan antisipasi pencegahan," jelas Raymond usai mendampingi Menteri PUPR di lokasi bencana Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kamis (11/11/2021).

Karena potensi tersebut, Raymond meminta semua pihak untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan sebisa mungkin segera mengambil tindakan antisipasi.

"Bila sekarang mulai melakukan penanaman di lokasi tentu tidak mungkin. Tetapi untuk jangka panjang perlu diprogramkan secara bertahap agar perubahan tata guna lahan dapat dikurangi. Paling penting yaitu kesiagaan, itu yang harus ditingkatkan karena potensinya ada," paparnya.

Tampak kondisi pematus alami yang berada di bawah blok Glagah Wangi juga hampir sama dengan Pusung Lading. Jalur pematus itu merupakan hulu lain dari jalur air yang sebelumnya mengalami banjir bandang. Dari hasil pengamatan foto drone juga terdapat penumpukan sedimen di paras pematus.

"Sehingga kalau ini dikombinasikan dengan hujan yang cukup tebal atau deras, kemudian terjadi aliran permukaan membawa serasah, kayu dan lainnya. Tidak menutup kemungkinan banjir bandang dapat kembali terulang tapi pada alur pematus lain," ungkap dia.

Harapannya, kondisi lahan yang sudah berubah segera dikembalikan secara perlahan. Artinya memerlukan upaya yang tidak bisa dilakukan hanya dalam satu hari saja.

"Jasa Tirta juga menemukan data dalam tiga atau empat tahun terakhir, pada saat musim kemarau, luas tutupan lahan atau yang berisi tanaman tegakan berkisar 19-25 persen. Jumlah itu masih jauh dari ideal lahan tutupan yang seharusnya berada di kisaran 30 persen," bebernya.

Kesimpulannya memang ada perubahan tata guna lahan di bagian hulu. Sepanjang jalur pematus alami juga ditemukan longsoran-longsoran. Tetapi longsoran itu tidak sepenuhnya menjadi sumber bencana, karena ada faktor pendukung yang lain.

"Dari temuan itu kami akan sampaikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS). Kami juga bakal menyampaikan temuan ini ke Pemprov Jatim. Karena ini melibatkan banyak pihak, jadi semua harus bekerja sama," imbuhnya.

Loading...

"Agar pencegahan bencana bisa berjalan lebih optimal," tandas Raymond.

Dirut PJT I saat memaparkan hasil penelusuran timnya (Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)

Berita Terkait