jatimnow.com

Fenomena Boneka Arwah di Indonesia, Begini Tanggapan KPAI

Editor : Arina Pramudita Reporter : Zain Ahmad
Kadivwasmonev KPAI, Jasra Putra. (Foto: dok jatimnow.com) 🔍
Kadivwasmonev KPAI, Jasra Putra. (Foto: dok jatimnow.com)

Surabaya - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) angkat bicara mengenai fenomena boneka arwah yang beberapa hari terakhir menjadi perbincangan publik.

KPAI menilai fenomena adopsi boneka arwah itu merupakan bagian perubahan perilaku masyarakat yang jumud dengan pandemi.

Meski secara materi dan aktivitas terpenuhi, manusia tetap tidak ingin kehilangan makna dan batin. Artinya, boneka arwah dapat mengisi hal tersebut.

Loading...

"Fenomena ini sangatlah miris. Dan inilah tantangan untuk publikasi pemerintah dalam mendorong kondisi anak-anak terlantar kita yang kalah populer dengan pengangkatan anak boneka arwah," ujar Kadivwasmonev KPAI, Jasra Putra kepada jatimnow.com, Selasa (11/1/2022).

Menurut Jasra, para pemilik boneka arwah perlu menjadi bagian gerakan pemerintah dalam menyiapkan orang tua pengganti. Karena manfaatnya sangat banyak.

Karena sebagai negara yang harus ramah terhadap alam, ancaman bencana selalu menjadi teman kehidupan di Indonesia. Seringkali dalam setiap peristiwa baik bencana, konflik, sosial meninggalkan anak-anak yang kehilangan figur pengasuhnya.

"Mereka butuh kehadiran, yang layaknya orang tua bagi mereka. Agar dapat perhatian penuh dalam tumbuh kembangnya. Karena Indonesia meyakini anak-anak yang terlepas dari keluarga bisa berkembang baik, bila pengasuh penggantinya menerapkan sistem keluarga," jelasnya.

Belajar dari beberapa bencana alam dan bencana pandemi, kata Jasra, anak-anak yang mendadak kehilangan orang tua. Artinya perlu mendapatkan segera pengganti keluarga.

Begitupun anak yang kehilangan orang tua karena perceraian, orang tua berhadapan dengan hukum, anak dalam masa pidana, anak dalam lembaga pengasuhan atau lembaga serupa yang menjadikan anak diasuh di luar keluarga.

"Untuk itu sangat penting sebelum itu semua terjadi. Negara memiliki daftar orang tua yang siap mengasuh mereka. Apalagi orang tuanya para publik figur atau artis. Tentu sangat baik," paparnya.

"Tapi kelihatannya program pemerintah ini kurang populer di tengah masyarakat. Sehingga ada masyarakat yang membandingkan dan menyayangkan fenomena menjadi orang tua dari boneka arwah, dengan kebutuhan daftar orang tua pengganti di negara ini," tambah pria yang juga pernah menjabat Sekjen Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak dan Panti Sosial Asuhan Anak itu.

Sementara berdasarkan data yang dihimpun KPAI, pemerintah mencatat di tahun 2020 ada sebanyak 67.368 data anak terlantar di Indonesia. Itupun terus bertambah dengan kasus bayi dibuang atau terlantar, yang juga sewaktu waktu terus menghiasi media.

Belum lagi ribuan lembaga asuhan dan lembaga serupa pengasuhan yang tidak terdaftar di pemerintah yang mengasuh anak terlantar.

"Begitupun anak-anak yang kehilangan mendadak orang tua. Selama pandemi ini saja telah mencapai 30.766 anak. Dan belum semua mendapatkan intervensi yang terus menerus, dan pemerintah mencari para calon orang tua pengganti, agar mendapatkan solusi yang lebih permanen," pungkas Jasra.