Pixel Code jatimnow.com

Opini

7 Anak SD di Bekasi Meninggal, KPAI Dorong Beberapa Hal yang Harus Segera Dikaji

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Zain Ahmad
Kadivwasmonev KPAI, Jasra Putra (Foto: Dok. jatimnow.com)
Kadivwasmonev KPAI, Jasra Putra (Foto: Dok. jatimnow.com)

jatimnow.com - Peristiwa 7 anak dan 3 orangtua meninggal dunia serta 20 lainnya masih bertaruh nyawa pascatiang BTS ditabrak trailer, meninggalkan duka teramat dalam. Karena korban terbanyak adalah anak-anak.

Apalagi peristiwa itu terjadi ketika anak-anak SD sedang menunggu angkot untuk pulang. Peristiwa terjadi tepat pada saat orang tua mengantar anak dan menjemput anaknya di sekolah.

Anda bisa terbayang, harapan menanti anak pulang sekolah, terjawab dengan musibah meninggal dunia. Tentu menjadi duka yang teramat dalam. Duka seperti ini tentunya akan berkepanjangan, sehingga penting didampingi sejak awal.

Tentu saja kelalaian driver trailer sangat kita kecam. Apa yang menyebabkan kelalaian terjadi, perlu segera diungkap. Karena ini yang kehilangan anggota keluarganya sangat banyak.

KPAI telah berkoordinasi dengan KPAD Bekasi, agar dapat asessmen cepat dalam pengarusutamaan kebutuhan anak dan keluarga yang menjadi korban. Agar segera direspon bersama dalam pengurangan dampak dan risiko yang akan dialami anak-anak di SDN Kota Baru I dan III Kota Bekasi.

Kalau kita amati melalui Google Map satelit, tampak sekolah yang berdiri tepat di jalan raya dengan dipisahkan trotoar kecil, tiang BTS pun menempel pendiriannya dengan sekolah.

Perlunya kajian pascaperistiwa demi keamanan yang lebih baik di sekolah. KPAI khawatir ini bukan peristiwa pertama, karena kondisi sekolah yang langsung berhadapan jalan raya aktif 24 jam.

KPAI mengimbau karena sudah ada 7 anak dan 3 orangtua meninggal dan 20 lainnya masih bertaruh nyawa. Sudah saatnya sekolah ditingkatkan keamanan keselamatan murid-muridnya.

Dengan tidak ada batasan yang tegas antara sekolah dengan jalan raya dan menempelnya tiang BTS yang berdiri di gedung sekolah. Perlu dikaji kembali, apakah keamanan yang ada, sudah standar.

Saya kira perlu keputusan cepat dan langsung di lokasi, agar mengurangi ketakutan mendalam kepada anak anak yang masih akan melanjutkan sekolah.

Baca juga:
KPAI Kecam Kasus Tewasnya Santri Gontor, Minta Sistem Pengawasan Dievaluasi

KPAI menyarankan agar sekolah segera didukung dalam meningkatkan fasilitas keamanan anak, seperti melengkapi zebra cross yang ada, dengan pelikan 'tanda ada orang menyeberang', penambahan petugas pada jam jam kedatangan dan kepulangan sekolah.

Penting adanya batas trotoar yamg lebih tegas antara sekolah dan jalan raya dan aktivitas anak-anak yang jajan di pinggir jalan raya, mengkaji kembali posisi BTS yang ternyata dapat berisiko besar ketika ditempelkan ke gedung sekolah, penambahan rambu sebelum depan sekolah dan juga aturan kecepatan.

KPAI menghimbau ada keputusan cepat dari yang terkait untuk bersama sama mengurangi risiko hilangnya nyawa anak di sekolah atas musibah trailer tabrak sekolah tersebut.

KPAI juga mengingatkan karena hingga 30 korban. Agar dicek seksama para korban ini, bila ada anak dan orangtua yang menjadi korban. Kemudian apakah yang meninggal adalah figur pencari nafkah di keluarga, adakah anak yang kehilangan orangtua pascaperistiwa.

Lalu apakah ada anak beresiko disabilitas, sehingga penting ke depan difikirkan kelanjutan aksesibel dan akomodasi yang layak untuk pendidikannya ke depan. Agar dampaknya bisa ditangani dan dikurangi sejak awal.

Baca juga:
Transportasi Umum Ramah Anak jadi Kebutuhan Generasi Masa Depan

KPAI menyayangkan jika peristiwa ini akibat, seperti kelebihan muatan, kendaraan yang tak laik operasional, yang seharusnya bisa dicegah. Apalagi ini jalan rata, bukan naik dan turun.

Untuk itu agar penanganannya tegas dan tidak main-main, karena nyawa anak dan anak kehilangan orangtua. Mohon bisa menjadi pertimbangan, agar tidak terulang. KPAI memohon agar sekolah sekolah di pinggir jalan raya yang aktif dikaji kembali standar keamanan berlapis untuk anak.

KPAI mengucapkan duka sedalam dalamnya atas peristiwa tersebut. Terutama keluarga yang kehiangan anak dan anak-anak kehilangan orangtua.


Penulis: Kadivwasmonev KPAI, Jasra Putra