Pixel Code jatimnow.com

Menikmati Bakso Macan di Pelosok Ponorogo Harganya Tidak Garang

Editor : Zaki Zubaidi Reporter : Mita Kusuma
Bakso Pak No Macan yang selalu diserbu pelanggan apalagi saat makan siang. (Foto-foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)
Bakso Pak No Macan yang selalu diserbu pelanggan apalagi saat makan siang. (Foto-foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)

Baca juga:
Menilik Sejarah Panjang Bakpao Kimyen yang Terkenal

Ponorogo - Bakso merupakan makanan sejuta umat. Mau di tengah kota besar hingga di perdesaan pasti ditemukan bakso.

Seperti di Desa Carat, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Ada Bakso Macan Pak No. Lokasinya jauh dari pusat kota Bumi Reog. Namun walaupun begitu, saat memasuki jam makan siang antrenya luar biasa.

Selain itu, juga murah meriah, ramah di kantong. Karena satu porsi hanya seharga Rp5 ribu. Juga satu gelas besar minuman baik es maupun hangat hanya dihargai Rp2 ribu.

Bakso Pak No berada di perkampungan desa. Tetapi sampai di lokasi, parkiran motor yang ingin merasakan bakso Pak No sangat banyak. 

Satu mangkok itu berisi lengkap. 4 pentol bakso ukuran kecil dan 4 pentol bakso ukuran sedang. Lengkap dengan mie kuning serta bihun. Kuah bakso bening disertai irisan seledri dan taburan bawang goreng.

Setelah disajikan, ditambahi saos tomat, kecap dan sambal. Ketika dirasakan, not bad lah dengan harga Rp5 ribu untuk semangkok bakso.

Bakso Pak No sendiri disebut dengan Bakso Macan. Berdiri dari tahun 2002. Dengan kata lain sudah 20 tahun. Awal mula hanya gerobak biasa yang putar dari satu tempat ke tempat lain.


“Sudah 20 tahun ini. Si senduk (anak) masih kecil. Hingga saat ini telah dewasa dan ikut berjualan,” ujar  pemilik Bakso Pak No, Suwarno, Jumat (9/9/2022).

Dari situ, ketika ada pesanan dari pegawai kecamatan menyebutnya bahwa bakso Pak No ditambah dengan kata Macan alias mama cantik. Pasalnya yang menjual terkadang istri dari Pak No.

Sehingga dia membuka buka warung bakso Pak No Macan. Selain itu, di depan gerobak bakso Pak No ada gambar hewan Macan.

Dari dulu hingga saat ini, Pak No mengaku selalu menjual dengan harga murah meriah. Dari harga satu mangkuk Rp500 hingga saat ini Rp5 ribu. Bahkan dua tahun lalu masih dibandrol dengan harga Rp4 ribu.

Dalam sehari, lanjut dia, dia bisa menjual 1000 mangkok. Terlebih jika ada pesanan seperti acara pengantin maupun yasinan bisa terjual hingga 2000 mangkuk. 

“Murah gak papa, yang penting ada keuntungannya. Bisa sampai 2000 mangkuk per hari. Yang jelas selalu ada yang beli,” pungkasnya.