Pixel Code jatimnow.com

Menkes Bicara Melonjaknya Kasus Covid-19: Ortu Belum Vaksin dan Booster, Paksa

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Farizal Tito
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin saat berada di Unair (Foto: Fahrizal Tito/jatimnow.com)
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin saat berada di Unair (Foto: Fahrizal Tito/jatimnow.com)

jatimnow.com - Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin mengakui jika saat ini terjadi peningkatan kasus Covid-19 yang disebabkan tiga subvarian baru.

Tiga subvarian baru itu bernama BA2.75, XBB dan BQ1. Katanya, kasus baru Covid-19 banyak ditemukan di kota besar. Sementara di Indonesia, ada satu varian baru yang mendominasi adalah BQ1.

"Jadi memang sekarang kasusnya naik disebabkan varian baru. Varian baru ada tiga, BA2.75, XBB dan BQ1. Yang banyak di Indonesia adalah BQ1, banyak di Eropa dan Amerika dan XBB ada di Singapura," ujar Budi Gunadi saat di Unair, Rabu (9/11/2022).

Budi memprediksi, kasus Covid-19 di Indonesia akan terus melonjak. Dia mengakui kalau sekarang sudah masuk gelombang ketiga. Namun, kasus-kasus terbanyak, apalagi yang subvarian baru, banyak ditemukannya di kota-kota besar.

"Kasus paling banyak ditemukan di Bali, Surabaya, Jakarta. Gelombangnya sudah mulai naik sekarang. Jadi dijaga dari sekarang," beber dia.

Budi menyatakan, cara penularan subvarian baru itu ini sangat cepat. Sehingga mengakibatkan lonjakkan kasus hingga sekarang ada 24 ribu pasien dengan 1.300 meninggal dunia.

"Orang sudah divaksin, sudah kena, cepat juga tertular. Dan masuk RS (rumah sakit) juga sedikit di atas BA2.75 bulan Agustus kemarin," terang dia.

Baca juga:
Menkes Segera Keluarkan Aturan Ganja Medis

Saat ini, yang dirawat mencapai 24.000 pasien, kondisi berat 10.000 pasien, dan meninggal 1.300 orang. Data itu tercatat sejak Oktober.

"Itu untuk yang berat saya kaget, 40 persen belum vaksin atau 70 persen belum booster. Yang meninggal dari 1.300 itu, 50 persen belum vaksin dan 80 persen belum booster," urainya.

Untuk mengantisipasi, Budi mengimbau agar masyarakat memperketat protokol kesehatan dan bagi yang belum melakukan vaksinasi booster untuk segera vaksin.

Baca juga:
Selain PCR, Jokowi Juga Pernah Minta Harga Gula dan Daging Turun

Menurutnya, hal itu sebagai upaya untuk mengurangi risiko masuk rumah sakit bahkan yang paling fatal meninggal dunia.

"Dia akan tertular, gak apa-apa tertular, tapi kalau dia divaksinasi, dia itu ringan. Jadi tolong cepat-cepat vaksinasi, dan yang sudah tapi belum booster, cepat dibooster," sambung Budi.

"Yang belum vaksin cepat vaksin. Kalau punya orang tua (ortu) belum vaksin, paksa vaksin, belum booster, paksa dibooster," tandasnya.