Pixel Code jatimnow.com

Jejak Prostitusi di Surabaya

Dolly, Lahan Sampah yang Menjelma Lokalisasi Terbesar Asia Tenggara

Gang Dolly atau Jalan Kupang Gunung Timur I merupakan tempat eks lokalisasi Dolly (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)
Gang Dolly atau Jalan Kupang Gunung Timur I merupakan tempat eks lokalisasi Dolly (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)

jatimnow.com - Gang Dolly, merupakan satu diantara banyak tempat prostitusi paling jaya pada masanya. Memiliki sejarah panjang, berhasil mengorganisir sebanyak 5000 PSK di tahun 2006.

Gang Dolly, banyak orang menyebutnya sebagai tempat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. Lokasinya berada di Jalan Kupang Gunung Timur I, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya.

Letak lokasi pelacuran ini jika ditempuh dari Jalan Tunjungan atau pusat Kota Surabaya, bisa dicapai dalam kurun waktu 10 menit, dengan jarak sekitar 1,5 kilometer.

Sejarawan Surabaya Yatim Subhakti mengatakan, kemunculan dari kompleks prostitusi Dolly diketahui sejak tahun 1960-an.

Yatim Subhakti (Foto: Yatim Subhakti for jatimnow.com)Yatim Subhakti (Foto: Yatim Subhakti for jatimnow.com)

"Dolly (jadi lokalisasi) terbesar se-Asia Tenggara itu ada sekitar pada tahun 1960 lalu, sebelumnya area tersebut masih berbentuk urukan lahan sampah," kata Yatim kepada jatimnow.com

Lokalisasi Dolly terkenal hingga ke mancanegara awal mulanya dirintis oleh seorang perempuan dari keturunan Manado-Belanda, Dolly Chavid.

"Mami Dolly, seorang perempuan berpawakan laki, yang mampu meramu kawasan tersebut menjadi terkenal, hingga namanya dilekatkan dengan lokasi praktik prostitusi tersebut," lanjut Yatim.

Seperti diketahui, untuk saat ini lokasi Dolly sudah berubah menjadi kompleks rumah warga dan berdiri sejumlah bangunan usaha. Perubahan terhitung sejak dibubarkannya lokalisasi melegenda itu pada tahun 2014 silam, oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Saksi sejarah di lingkungan eks lokalisasi Dolly, Ngadimin Wahab menjelaskan, Dolly terkenal sebagai lokalisasi terbesar tahun 1960an menyimpan cerita banyak panjang.

Menurut Ngadimin yang pemilik nama panggung Abah Petruk itu, bahwa, Dolly dulu sebatas 1 lorong gang, dimulai dari 1 wisma lalu disusul wisma-wisma lain di sekitarnya.

Ngadimin Wahab atau Abah Petruk (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)Ngadimin Wahab atau Abah Petruk (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)

"Jalan Kupang Gunung Timur I adalah gang Dolly, pertama berdiri 1 wisma Papi Dolly, lalu merambat menjamur banyak wisma di sekitarnya," ungkap Abah Petruk, Selasa (29/11/22).

Padahal dulu, lanjut Petruk, pada tahun 1965 itu masih banyak bersemayam kuburan Cina (Bong) di daerah Putat Jaya.

Baca juga:
Kisah Prostitusi Cemoro Sewu dan Makam Kembang Kuning Surabaya

Perkembangannya begitu pesat, sampai-sampai banyaknya wisma lokalisasi menapaki jumlah 55 wisma.

"Ada Rilex, Studio, Hollywood, Panorama, Barbara, dan masih banyak lagi," imbuhnya.

Abah Petruk menyebut, bahwa PSK di Dolly itu mayoritas adalah pendatang dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda.

Mirisnya, pada tahun itu para PSK diburu dan dicari oleh calo-calo yang tersebar di terminal.

"Calo menyebar di terminal, mencari penumpang yang baru saja turun untuk diberi penawaran, bila cantik langsung digiring ke lokalisasi, apabila jelek dibawa ke pangkalan partner pembantu di Jalan Bromo," jelasnya.

Abah Petruk masih ingat betul, dalam catatannya, lokalisasi itu disterilkan Pemkot Surabaya pada 18 Juni 2014.

"Fase terbesar Dolly pernah dihuni sebanyak 5.000 PSK di tahun 2006, dan pas waktu dibubarkan pada 2014 ada sekitar 1.022 PSK," ungkapnya.

Baca juga:
Romansa Lokalisasi Bangunrejo Surabaya Tergusur Infrastruktur

Masih ada sisa sejarah, yaitu bekas wisma eks lokalisasi Dolly; Wisma Barbara yang kini telah alih fungsi menjadi rumah usaha sandal dan sepatu.

Bangunan Wisma Barbara yang merupakan salah satu peninggalan eks wisma lokalisasi Dolly. (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)Bangunan Wisma Barbara yang merupakan salah satu peninggalan eks wisma lokalisasi Dolly. (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)

Sehingga Abah Petruk turut merinci, bahwa upaya bangkit dari keterpurukan masa kelam tak elak dari jasa para pemimpin, Pakde Karwo dan Bu Risma.

"Program Gubernur, Pak Karwo untuk menjadikan Jawa Timur Makmur dan Berakhlak Mulia melalui inisiasi Surat Edaran soal lokalisasi di tahun 2010," pungkasnya.