Pixel Code jatimnow.com

Partai Wajib Tahu! Model Kampanye yang Diminati Warga Surabaya

Editor : Rochman Arief Reporter : Ni'am Kurniawan
Peneliti Senior SSC, Surokim Abdus Salam (foto: Ni'am Kurniawan/jatimnow.com)
Peneliti Senior SSC, Surokim Abdus Salam (foto: Ni'am Kurniawan/jatimnow.com)

jatimnow.com - Hasil riset yang dilakukan Surabaya Survey Center (SSC) mengungkap sumber informasi dan model kampanye sebagai referensi pilihan politik.

Hasilnya, sebanyak 39,3 persen warga Surabaya lebih menyukai kampanye politik dengan model aktivitas bhakti sosial hingga pasar murah. Kemudian diikuti pengajian sebanyak 12,8 persen, jalan sehat 10,6 persen, pengobatan gratis 7,3 persen, ngopi bareng 7,1 persen, pertunjukan musik 5,8 persen, dan senam 4,4 persen.

"Kampanye lainnya seperti lomba atau pertandingan olah raga hanya 3,0 persen, mancing bareng 2,2 persen, ziarah wali 2,0 persen, sepeda santai 1,7 persen, kemudian pagelaran wayang 0,8 persen, serta pagelaran seni dan lomba burung keduanya masing-masing 0,5 persen dan 2,0 persen menyatakan tidak tahu/tidak menjawab," beber peneliti senior SSC, Surokim Abdus Salam, Kamis (12/1/2023).

Hal tersebut lebih dipilih karena, warga bisa berinteraksi langsung dengan calon-calon legislatif ataupun Kepala daerah dari partai politiknya.

Baca juga:
Ini Pesan Perdamaian dari Kiai dan Romo Jelang 2024

Di sisi lain, untuk referensi informasi, Direktur Riset SSC, Edy Marzuki mengungkapkan sebanyak 31,6 persen menjadikan medsos sebagai sumber informasi terkait Pemilu, diikuti televisi 29,4 persen, dari mulut ke mulut 12,3 persen, media cetak 5,1 persen, dan keluarga 2,4 persen.

"Sisanya ada media luar ruang 2,3 persen, radio 1,9 persen, pemerinta atau KPU 1,6 persen, serta sosialisasi partai atau Caleg 1,4 persen, dan sisanya 12 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab," jelas Edy.

Baca juga:
Gerindra Jatim Siapkan Petarung Millenial di Jombang

Pihaknya menyarankan kepada penyelenggara pemilu untuk lebih memperhatikan perkembangan ini untuk memuat sumber-sumber informasi terkait Pemilu ke depan bisa lebih kreatif memaksimalkan medsos.

"Ini juga bisa menjadikan kalangan milenial yang pada dasarnya pengguna medsos agar bisa menggunakan hak pilihnya secara bijak", imbuhnya.