Pixel Code jatimnow.com

Asal-Usul dan Pamor Nasi Boranan Lamongan yang Melegenda

Editor : Rochman Arief Reporter : Adyad Ammy Iffansah
Proses pembuatan nasi boranan di dapur salah satu pedagang di Dusun Kaotan. (foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Proses pembuatan nasi boranan di dapur salah satu pedagang di Dusun Kaotan. (foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

jatimnow.com - Nasi boranan bukan sekadar kuliner khas Lamongan semata. Ada banyak kisah yang menyertai perjalanan makanan legendaris ini.

Misalnya, tentang pengambilan nama dan metode penjualan yang tergolong unik. Bahkan jarang dilakukan warga dari luar daerah Lamongan sekalipun.

Muncul pertama kali di Dusun Kaotan, Desa Sumberejo, Kecamatan/Kabupaten Lamongan. Nama boranan dicomot dari kalimat boran yang berarti 'wakul' sebagai wadah atau tempat nasi.

Boran sendiri terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk sedemikian rupa agar lebih praktis dan memudahkan sebagai wadah nasi secara tradisional.

"Kalau penamaan boranan, dari cerita turun temurun diambil dari wadah boran," kata Bu Toni, salah satu penjual nasi boranan, Kamis (19/1/2023).

Tapi apakah sesederhana itu? Sulit untuk mengidentifikasi dan menelusurinya.

Baca juga:
Rujak Mak Tas Lamongan, Kudapan Penggugah Selera Penuh Keajaiban dan Ikonik

Menurut Bu Toni dari wadah boran, orang-orang dulu menjajakan makanan layaknya tukang jamu. Tentu saja dengan cara dipikul, dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainya.

"Jadi sejarahnya, memang dulu dipikul dan dijajakan dengan berjalan kaki," tuturnya.

Dari penelusuran jatimnow.com, kebanyakan dari pedagang nasi boran malah tidak mengetahui pencetus metode berdagang sengan cara berkeliling. Kendati demikian, cerita bertutur tersebut diyakini dan dipercaya warga Kaotan.

Baca juga:
Bikin Lelaki Betah! Emak-emak Wadul Polres Lamongan, Ini Permintaannya

"Warga di sini yaa.... tahunya sekelumit cerita itu. Cerita bertutur saja. Kalau figur atau sosok pencetusnya saya malah nggak tahu, dan mungkin tidak banyak yang tahu," imbuhnya.

Meski begitu, warga di Dusun Kaotan sebagai sentra nasi boranan tetap melestarikan usaha kuliner secara turun temurun.

"Sekarang kebanyakan dijual mangkal pada satu tempat, penjualnya pun makin banyak," pungkasnya.