Pernyataan Mengejutkan Sang Kadispendik Jatim Soal Insiden SMKN 1

Editor: Erwin Yohanes / Reporter: Farizal Tito

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Saiful Rachman.

jatimnow.com - Dugaan kekerasan siswa di SMKN 1 Surabaya direspon Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Saiful Rachman, Rabu (26/9/2018).

Namun, ia terkesan menyudutkan siswa meski Kepala Sekolah SMKN I Surabaya, Bahrun sudah mengakui khilaf dan meminta maaf dengan membuat surat pernyataan .

Berikut pernyataan Saiful Rahman yang direkam wartawan:

Bagaimana tanggapan bapak soal insiden penamparan siswa inklusi SMKN 1 Surabaya?

Menampar seperti ini loh, kita coba ya...tapi kok diviralkan ditampar, dijambak gitu... Jadi kepala sekolahnya ini ngecek anak-anak itu kan UTS, tapi kok belum waktunya keluar kok keluar. Ternyata dicek iku onok sing durung (itu ada yang belum) dikerjakan.

Padahal kepsek itu menginginkan mutu sekolah itu tetep baik dan anak-anak kerja maksimal...lah terus emosi...areke dingenekno (anaknya dibeginikan....mempraktikkan menampar) ....gitu, arek-arek saiki pinter-pinterkan (anak sekarang pintar-pintar) ...diberitakan bapake ngene-ngene yo...repot kita ini (diberitakan bapaknya begini-begini ya repot kita).

Era digital ya seperti ini, masuk generasi milineal ya seperti ini, jadi kita nggak bisa...apa namanya....semua harus segera dipercaya ya tidak bisa...karena banyak modifikasi yang apa namanya bisa dibuat, diedit dan lainnya...pernah di Magetan arek bolak2 balik dikaplok (anak-anak berkali-kali ditampar), padahal itu teknologi iku...

Tapi ini yang ditampar sampai kacamatanya lepas adalah siswa inklusi (berkebutuhan khusus)?

Saya kurang tahu itu, tapi kalau kacamatanya lepas kan ya iso ae (bisa saja) ini lepas to...masio ngunu yo (meskipun begitu ya)...tapi yang jelas kan tidak separah itu...jadi yang namanya guru tetap menginginkan anaknya jadi pintar....

Bagaimana dengan permintaan orang tua supaya kepala sekolahnya mundur?

Wah iku wes (itu sudah) politis iku....mundur iku sopo sing ngelola (mundur itu siapa yang akan mengelola)....onok sing ngongkon (ada yang menyuruh itu)...kesalahane opo kok digampang2no mundur (kesalahannya apa kok mudahnya disuruh mundur)

Apakah dengan kejadian ini tidak takut siswa traumatis?

Oh ndak lah, jadi sekarang ini kalau orangtua sudah sampai terjun ke sana terus sekolah suruh berbuat apa...terus arek ga iso dididik (terus anak tidak bisa dididik) terus sekolah-guru terus suruh berbuat apa. Lek nilaine elek-elek muride elek terus ngunu iku yok opo (kalau nilainya jelek-jelek, muridnya jelek terus seperti itu bagaimana)....

Apakah berarti menampar (siswa) tidak apa-apa?

Kan dalam undang-undangnya kan ada perlindungan itu. Bahwa kalau tujuan untuk kedisiplinan, dalam batas-batas tertentu tidak masalah. Bukan berarti terus menampar sampai areke dedel duel jungkel (babak belur) ya nggak. Tapi kalau orang tuanya menuntut kepala sekolahnya sampai mundur ya kejauhan itu. Kita proses, semuanya kita proses.

Apakah sudah melakukan pemanggilan terhadap Kepala Sekolah SMKN1 Surabaya?

Sudah kita panggil. Saya suruh menyelesaikan, membereskan...

Apakah ada keinginan untuk bertemu dan memediasi kedua belah pihak?

Untuk apa biar diselesaikan sendiri lah. Saya ndak perlu...sekarang kalau di Pacitan itu saya kesana...terus yok opo (terus bagaimana)...ngongkon (menyuruh) wartawan Bhirawa rono (kesana) wes...ya jadi jangan diviralkan, ndak pas itu....

Terkait dengan siswa inklusi, seumpama bapak tahu itu siswa inklusi (korban), apakah ada kebijakan pada kepala sekolah?

Maksudnya kebijakan apa?

Maksudnya kebijakan apa yang bapak berikan untuk Kepala Sekolah SMKN 1 Surabaya atas insiden kekerasan ini?

Begini ya, kita itu mengelola sekolah inklusi itu memang resiko tinggi. Tahu sendiri kan anak-anak inklusi itu emosionalnya juga tinggi, kita harus sabar. Makanya guru-guru PKLK itu kalau dikatakan, guru jaminan surga dari Allah. Jadi dia itu mendidik anak-anak yang keterbelakangan, anak-anak yang tidak normal menjadi bisa. Kudu (harus) sabar.

Nah sekarang ini anak-anak inklusi masuk sekolah umum itu juga butuh kesabaran. Makanya emosi...tapi kan tidak separah yang diberitakan. Ya emosi-emosi, namanya orang spontanitas emosi ya kita tidak tahu. Dan kepala sekolah sampai turun kayak gitu kan cukup bagus. Berarti kepala sekolah ini turun di lapangan.

Tapi kalau kepala sekolah yang tidak mau tahu dan cuma di kantor saja ya salah. Jadi seperti itu, betul-betul dicek kepala sekolah yang aktif ini yang harus tahu kondisi di lapangan sampai sejauh mana.


jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter