jatimnow.com - Di tengah dinamika sosial yang kerap memanas, para pemuda lintas agama Jawa Timur memilih jalan sunyi yang menyejukkan. Mereka berkumpul di Balai Paroki Santo Yakobus, Citraland, Surabaya, pada Senin malam (29/12) untuk meruntuhkan tembok prasangka.
Pertemuan bertajuk “Harmoni Dalam Kebersamaan” ini mempertemukan organisasi kepemudaan besar seperti GP Ansor, Pemuda Muhammadiyah, hingga Pemuda Katolik untuk memastikan Jawa Timur tetap menjadi rumah yang aman bagi semua keyakinan.
Dialog ini bukan sekadar seremoni meja makan. Para pemimpin muda ini duduk melingkar, berbagi keresahan, dan merancang kolaborasi nyata agar perbedaan keyakinan tidak lagi menjadi sumbu konflik di tingkat akar rumput.
Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Musaffa Safril, yang memandu jalannya acara, menyebut bahwa kerukunan tidak jatuh dari langit. Menurutnya, harmoni memerlukan kerja keras dan kemauan untuk saling bertemu secara fisik.
"Ini wujud kesadaran kolektif kami. Harmoni dalam keberagaman tidak cukup hanya diteriakkan lewat slogan, tetapi harus dirawat melalui perjumpaan, dialog, dan kerja sama nyata," tegas Musaffa Safril di hadapan puluhan aktivis muda.
Menghapus Sekat di Balai Paroki Suasana malam itu mencairkan kekakuan yang sering muncul di ruang publik.
Kehadiran berbagai pimpinan organisasi mulai dari Pemuda Hindu, GAMKI (Kristen), GEMABUDHI (Budha), hingga Pemuda LDII dan PMII menunjukkan bahwa komunikasi lintas iman di Jawa Timur kini memasuki babak baru yang lebih inklusif.
Ketua Pemuda Katolik Jawa Timur yang menjadi tuan rumah malam itu merasakan betapa pentingnya frekuensi yang sama antar-pemuda. Ia menilai ruang perjumpaan seperti ini adalah fondasi paling dasar dari persaudaraan sejati.
Baca juga:
Ikhtiar GP Ansor Bangun Cetak Generasi Qur’ani Melalui MHQ 2026
"Ketika anak muda dari latar belakang berbeda mau duduk bersama dan saling mendengar, di situlah benih perdamaian benar-benar tumbuh," ujarnya.
Mengikis Prasangka Sejak Dini Senada dengan itu, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur melihat dialog ini sebagai langkah strategis untuk menghalau penyebaran informasi keliru antar-kelompok agama. Baginya, keterbukaan adalah kunci untuk membangun kemajuan masyarakat secara bersama-sama.
"Dialog seperti ini membuka ruang untuk saling memahami sekaligus mengikis prasangka. Dari titik inilah kolaborasi untuk kemajuan warga Jatim bisa kita bangun," ungkapnya.
Pertemuan di Citraland ini merupakan sekuel dari perjumpaan perdana yang digelar di Kantor PW GP Ansor tahun lalu.
Baca juga:
Ansor Karanggeneng Cetak Petani Militan, Lawan Krisis Pangan dari Desa
Konsistensi ini menunjukkan bahwa para pemuda di Jawa Timur tidak ingin kerukunan hanya menjadi tren sesaat, melainkan budaya organisasi yang mendarah daging.
Forum ini sepakat bahwa pemuda harus menjadi garda terdepan dalam meredam potensi gesekan sosial.
Mereka berkomitmen untuk membawa semangat inklusif ini ke daerah masing-masing, memastikan bahwa Jawa Timur tetap menjadi provinsi yang rukun, damai, dan beradab.