jatimnow.com - Pelajaran agama bagi anak usia dini seringkali terjebak dalam pola hafalan yang kaku. Namun, pemandangan berbeda terlihat di ruang kelas Sekolah Cikal Kemang.
Alih-alih hanya meminta siswa menghafal urutan, para pendidik di sana mengajak anak-anak menyusun balok-balok mainan untuk memahami fondasi keyakinan mereka.
Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan baru di kampus terbaru Sekolah Cikal yang mulai membuka jenjang TK dan SD pada 2025 tersebut.
Guru Agama Islam di Sekolah Cikal Kemang, Mirwan Abdul Aziz, menyadari bahwa konsep ketuhanan dan syariat merupakan hal abstrak yang sulit dicerna logika anak kecil jika tidak divisualisasikan.
"Anak usia TK dan kelas 1 SD itu dunianya masih konkret. Mereka harus melihat dan menyentuh untuk mengerti," ujar Mirwan saat berbincang mengenai metode belajarnya.
Dalam sesi pengenalan Rukun Islam dan Rukun Iman, Mirwan mengibaratkan keyakinan layaknya sebuah bangunan.
Ia membiarkan siswanya asyik menyusun balok hingga membentuk sebuah gedung tinggi. Saat bangunan itu berdiri, ia melontarkan pertanyaan pemantik yang membuat anak-anak berpikir.
"Saya tanya mereka, bagian mana yang paling krusial? Kalau satu bagian ini diambil dan bangunannya roboh, itulah gambaran rukun atau fondasi dalam agama," jelasnya.
Dengan cara ini, anak tidak lagi sekadar menghafal angka satu sampai lima, tapi memahami bahwa tiap poin adalah penyangga yang tak boleh hilang.
Baca juga:
7 Langkah Berani Tanggap Bullying
Selain urusan rukun, tantangan guru agama adalah mengenalkan Asmaul Husna atau nama-nama baik Allah. Dibanding menyodorkan daftar panjang untuk dihafal, Mirwan memilih membawa anak-anak melihat jendela atau berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Ketika hujan turun, ia mengajak siswa memaknainya sebagai wujud nyata sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih). Kasih sayang Tuhan tidak lagi menjadi konsep di awang-awang, melainkan terasa lewat air yang menyuburkan tanaman atau rasa sayang yang mereka tunjukkan kepada hewan peliharaan.
"Kita bawa ke konteks dunia nyata. Belajar kepedulian kepada teman atau lingkungan itu adalah bentuk praktik dari memahami sifat-sifat Tuhan," tambah Mirwan.
Meski Sekolah Cikal berdiri sebagai sekolah umum dan bukan sekolah berbasis agama, napas spiritualitas tetap kental dalam aktivitas harian.
Baca juga:
Darurat Bullying! Sekolah Harus Bertindak Jadi Garda Depan!
Di Cikal Kemang, nilai-nilai Islam menyatu dalam pembentukan karakter yang mereka sebut sebagai "15 Kompetensi Bintang Cikal".
Siswa kelas 1 hingga 3 SD dibiasakan menjalankan ritual harian yang ringan namun konsisten. Mulai dari melantunkan selawat dan Al-Fatihah sebelum memulai kelas, berdoa sebelum makan, hingga menunaikan salat Zuhur berjamaah.
Bagi Mirwan, tujuannya bukan sekadar menjalankan kewajiban formal. Pelajaran agama di sekolah ini dirancang untuk membentuk etika sosial dan kemampuan mengendalikan diri.
Pada akhirnya, agama diharapkan menjadi kompas moral anak-anak saat berinteraksi di tengah masyarakat kelak.
URL : https://jatimnow.com/baca-81563-cara-sd-cikal-kemang-kenalkan-agama-ke-anak-lewat-mainan-balok