Pixel Code jatimnow.com

Merawat Kampus Agar Tetap Bersuara

Editor : Ali Masduki  
Kampus yang bersuara bukan kampus yang gaduh, melainkan kampus yang tenang, jernih, dan berani berkata benar secara santun. (Foto: Ilustrasi/Gemini)
Kampus yang bersuara bukan kampus yang gaduh, melainkan kampus yang tenang, jernih, dan berani berkata benar secara santun. (Foto: Ilustrasi/Gemini)

jatimnow.com - Kampus adalah ruang yang rapuh sekaligus kuat. Rapuh karena mudah dipengaruhi suasana. Kuat karena di sanalah pikiran-pikiran jangka panjang dirawat. Karena itu, kampus tidak cukup hanya dibangun dan dibiayai. Tapi perlu “dirawat” agar tetap bersuara.

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian negara terhadap dunia akademik meningkat. Bahkan tahun ini dana riset bertambah. Program kolaborasi diperluas. Banyak dosen dan peneliti merasa lebih dihargai. Ini tentu kabar baik. Bangsa yang serius pada ilmu memang harus berani berinvestasi pada pengetahuan.

Namun di sela kabar baik itu, harus diakui ada kegelisahan kecil yang patut didengar, yaitu: apakah perhatian yang besar selalu sejalan dengan kebebasan untuk tetap berbeda pandangan?

Kampus sesungguhnya bukan sekadar berperan sebagai mitra teknis negara. Tapi kampus adalah ruang etika. Tempat kebijakan diuji dengan nalar, bukan hanya didukung dengan data. Di kampuslah pertanyaan-pertanyaan yang tidak populer seharusnya tetap hidup dan dirawat.

Masalahnya, suasana sering kali bekerja lebih kuat daripada aturan. Memang tidak ada larangan untuk mengkritik. Tidak ada sensor resmi. Tetapi yang ada adalah kehati-hatian orang kampus yang berlebihan. Ada keengganan untuk “terlalu berbeda”. Kritik disampaikan sangat halus, kadang terlalu halus hingga nyaris tak terasa, apa lagi terdengar.

Ini bukan soal keberanian personal. Lebih sering ini terjadi karena soal ekosistem. Ketika kenyamanan struktural meningkat, biasanya kegelisahan intelektual bisa cenderung mereda. Kampus menjadi produktif, tetapi kurang reflektif. Sibuk menulis laporan, tetapi jarang bertanya ke mana arah kebijakan membawa kita dan bangsa ini berlabuh.

Padahal, sejarah ilmu pengetahuan justru lahir dari kegelisahan. Lahir dari keberanian ilmuwan untuk mengatakan bahwa data tidak selalu sejalan dengan kehendak kekuasaan. Lahir dari kesediaan ilmuwan untuk berdiri pada temuannya, dengan cara yang beradab dan bertanggung jawab.

Baca juga:
Elnusa Petrofin Jalin Kerjasama Strategis dengan Perguruan Tinggi, Ini Alasannya

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama menjaga kemerdekaan ilmunya dengan cara yang tenang dan elegan. Mereka tidak memusuhi penguasa, tetapi juga tidak membiarkan ilmu menjadi alat pembenaran. Ilmu dijaga martabatnya agar tetap jujur dan tegas membela kebenaran.

Hari ini, merawat kampus berarti menjaga ruang aman bagi perbedaan pendapat. Menjaga agar kritik tidak dianggap ancaman. Menjaga agar dosen dan peneliti tidak merasa bersalah ketika menyampaikan temuan yang tidak nyaman. Temuan yang mungkin tidak senafas dengan sponsor kekuasaan.

Kampus yang bersuara bukan kampus yang gaduh. Tapi justru kampus yang tenang, jernih, dan berani berkata benar dengan cara yang santun. Negara yang besar tidak takut pada suara seperti itu. Bahkan merindukanya dan ikut merawatnya.

Baca juga:
Taruna Poltekbang Surabaya Magang di Miyazaki Airport Jepang

Kita ingin para penguasa negeri ini membuka diri dan mengundang para pakar kampus, untuk memberikan masukan bahkan kritik, meskipun keras dan pedas, untuk perbaikan masa depan.

Sebab bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang rajin membiayai riset, tetapi bangsa yang bersedia mendengar suara kampus, apa pun isinya. Dan kampus tak boleh memproduksi suara sumbang. Karena suara kampus akan dikenang dan dibukukan untuk membangun peradaban.

Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur