jatimnow.com
Temui Remaja Perempuan Korban Pengeroyokan, Tim Pemkot: Masih Trauma

Tangkapan layar video peristiwa pengeroyokan remaja perempuan di Surabaya yang beredar

jatimnow.com - Tim dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berhasil menemui remaja perempuan yang dikeroyok di kawasan perumahan di Jalan Dharmahusada Indah Barat, Surabaya.

Dari informasi yang di himpun tim Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A), saat menemui korban bersama orangtuanya, pada Jumat (5/7/2019) itu mereka mengaku masih trauma dengan kejadian itu.

"Yang kedua ini berhasil menemui, saya beserta tim sudah bertemu dengan orangtua korban, ibu maupun dengan anaknya. Dia mengaku kejadian itu benar menimpanya," kata Kepala DP5A Kota Surabaya, Chandra Oratmangun. Sabtu (6/7/2019).

Keterangan lain dari korban yang masih duduk di bangku kelas 6 itu, kata Chandra. Korban mengakui bahwa selang dua hari pengeroyokan itu beberapa bagian tubuhnya memar-memar.

"Tapi saat kami kesana maksudnya melakukan pemeriksaan kesehatan namun ditolak dari orangtuanya. Dari pengamatan, sudah tidak terlihat memar, padahal satu dua hari setelah kejadian itu dia mengaku memar tapi sekaran sudah tidak," tutur Chandra.

Kendati telah berhasil menemui korban dan orangtuanya, Chandra masih belum berhasil menghimpun kronologi maupun yang perihal yang memicu pengeroyokan itu.

Baca juga:  

"Kita masih pendekatan dari faktor psikologisnya karena gak mungkin dia langsung bercerita sepenuhnya karena masih syok. Semoga hari Senin (8/7) besok ketemu lagi dia mau cerita, jadi kita tadi masih memancing mengambil hatinya dulu takut traumanya akan muncul," katanya.

Selain itu, menurut pengakuan korban, sebanyak kurang lebih 8 remaja yang mengeroyok itu merupakan teman yang dikenal korban melalui media sosial (medsos) dan mayoritas seusianya.

"Saya tanya ke korban, kamu kenal dari mana? Di mengaku teman kampung tapi agak jauh, dan ada beberapa teman ada yang kenal dari medsos namanya juga anak muda kenal si dia dan dikenalin keteman-temannya," ujarnya.

Pascakejadian itu, korban tiap harinya tinggal bersama saudara dari ibunya dan tidak lagi tinggal di kos-kosannya agar ada yang mengawasi.

"Alasan lain tinggal sementara di rumah saudaranya? Dia kan tinggal di kos-kosan jadi ibunya menitipkan ke saudaranya. Sepulang sekolah dia ke rumah saudaranya. Setelah ibunya pulang kerja jam 5 baru anak ini diantar atau di jemput ibunya," katanya.

Loading...

Dari data yang dihimpun DP5A bersama psikolog saat mendatangi tempat tinggal korban, diketahui korban merupakan dua bersaudara namun kedua orangtuanya sudah bercerai.

"Korban itu dua bersaudara, orangtuanya bercerai satu anak ikut ayahnya satunya ikut ibunya," jelas Chandra.
 

Berita Terkait