Sederet Fakta di Balik Pengeroyokan Remaja Perempuan di Surabaya

Editor: Redaksi / Reporter: Farizal Tito Narendra Bakrie

Tangkapan layar video pengeroyokan remaja perempuan di Surabaya yang beredar

jatimnow.com - Pengeroyokan seorang remaja perempuan oleh remaja perempuan lainnya di salah satu perumahan elit di Surabaya masih menyisakan sederet fakta. Namun fakta terbaru yang didapat yaitu, remaja perempuan yang keroyok itu ternyata seorang pelajar kelas 6 SD.

Fakta itu terungkap saat Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya Chandra Oratmangun dan timnya berhasil menjumpai korban di rumahnya di daerah Jojoran, Gubeng, Surabaya, Jumat (5/7/2019) lalu.

"Korban masih kelas 6 SD, tapi memang badannya bongsor (besar)," ungkap Chandra kepada jatimnow.com, Sabtu (6/7/2019).

Baca juga:  

Fakta lain juga terungkap saat Chandra dan timnya mencoba berkomunikasi dengan korban dan orangtuanya saat itu. Terungkap bahwa 9 remaja yang melakukan pengeroyokan terdiri dari teman sekolah korban hingga teman bermain, mulai dari pelajar SD, SMP hingga SMA.

Sampai dengan ditemui Chandra dan timnya, korban mengaku masih trauma. Namun luka memar yang dialami korban saat kejadian 28 Juni 2019 saat itu sudah berangsur hilang. Namun hasil visum atas luka korban yang dilakukan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim, sudah keluar.

"Kami sangat hati-hati dan pelan-pelan saat berkomunikasi. Pemicunya pun, belum kami dapat dari korban maupun orangtuanya," beber Chandra.

Saat berbincang dengan Tim DP5A Kota Surabaya, korban justru menyampaikan cita-citanya kelak ketika sudah lulus SMA atau SMK. Ada dua profesi yang ia impikan, yaitu dokter atau polwan. Namun pascapengeroyokan yang menimpanya, korban semakin mantap dalam hati ingin menjadi polwan agar bisa menjaga diri dan menolong orang lain.

Fakta berikutnya yaitu, korban dan 9 remaja perempuan yang melakukan pengeroyokan, bukan bagian dari penghuni Perumahan Dharmahusada Indah Barat, lokasi pengeroyokan terjadi. Namun, mereka berasal dari kampung, yang memang tak jauh dari perumahan elit tersebut.

Baca juga:  

Korban, bukanlah anak yang hidup dalam keluarga yang serba berkecukupan. Ia hidup dalam keluarga broken, ayah ibunya bercerai, dan ia memilih hidup bersama ibunya di sebuah kos-kosan. Di saat ibunya bekerja, korban hidup bersama keluarganya yang lain di wilayah tersebut.

"Ibu dan ayahnya bercerai. Korban ikut ibunya, sedangkan anak yang satunya, ikut ayahnya," terang Chandra.

Atas trauma korban, DP5A Kota Surabaya bersama Unit PPA Polrestabes Surabaya juga telah menyiapkan psikolog untuk melakukan pendampingan secara intensif agar psikis korban pulih.

Laporan pengeroyokan itupun sudah sampai di Polrestabes Surabaya dan tengah ditangani Unit PPA. Korban didampingi orangtuanya telah melapor hari itu juga pascakejadian. Tahapan pemeriksaan, visum dan gelar perkara juga sudah dilakukan Unit PPA.

"Kami rencanakan pemeriksaan terhadap 9 anak perempuan itu pada awal pekan depan," ungkap Kanit PPA Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni.

Selain untuk menggali motif atau pemicu kejadian, pemeriksaan itu juga untuk menentukan proses hukum selanjutnya atas kasus tersebut. Sebab, semua yang terlibat dalam peristiwa itu adalah anak-anak yang masih di bawah umur.


jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter